Baghdad (SIB)- Sebuah situs internet yang diyakini milik Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mempublikasikan nama, foto dan alamat 100 personel militer AS dan menyerukan para simpatisannya untuk membunuh mereka. "Saya belum bisa memastikan kebenaran dari informasi itu namun kami tengah menelusuri masalah ini," kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan AS kepada kantor berita Reuters, Sabtu (21/3). "Kami selalu mendorong personel kami untuk selalu melatih OPSEC (operasi keamanan) secara tepat dan menjalankan prosedur keamanan," tambah pejabat itu.Daftar yang diunggah oleh sebuah kelompok yang menyebut diri sebagai "Divisi Peretas Negara Islam" itu mendorong para simpatisan ISIS untuk mengambil "langkah final" yaitu membunuh ke-100 personel militer AS tersebut."Dengan jumlah data yang besar yang kami peroleh dari berbagai server dan basis data, kami memutuskan untuk membocorkan 100 alamat sehingga saudara-saudara kami yang berada di Amerika bisa menangani kalian," ujar kelompok itu lewat pernyataannya di internet.Harian The New York Times mengabarkan data-data yang dirilis kelompok tersebut nampaknya bukan diperoleh dari server milik pemerintah AS. Harian itu mengutip seorang pejabat kemenhan yang menyebut data-data itu bisa diperoleh dari catatan publik, situs pencarian alamat dan media sosial. Pejabat itu mengatakan nama-nama yang dirilis itu kemungkinan besar diperoleh ketika nama personel tersebut masuk dalam pemberitaan media terkait serangan udara terhadap ISIS.Sementara itu organisasi pemantau Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, mengatakan lebih dari 100 orang tewas akibat serangkaian kekerasan yang terjadi di Suriah dalam waktu 24 jam terakhir. ISIS menyerang konvoi tentara Suriah dan mendalangi serangan bom bunuh diri terhadap perayaan tahun baru Kurdi. Lebih dari 70 tentara Suriah tewas dalam serangan yang didalangi ISIS di Homs dan Hama. "Sebagian besar korban tewas, sekitar 50 orang, berasal dari pinggiran Hama," ujar direktur Syrian Observatory, Rami Abdel Rahman kepada AFP.Beberapa anggota ISIS, menurut Abdel Rahman, juga tewas dalam serangan yang berujung bentrokan itu. Rezim Suriah menguasai sebagian besar wilayah Homs dan Hama. Selain melawan pemberontak, rezim Suriah juga melawan ISIS yang berusaha menguasai wilayah Suriah."ISIS mengalami kemunduran baru-baru ini di Provinsi Aleppo dan Raqa, juga konfrontasi dengan Kurdi di Hasakeh di satu sisi, melawan tentara rezim (Suriah) di sisi lain, dan sekarang berusaha menyerang meskipun dengan personel terbatas, untuk mengimbangi kekalahan mereka," terang Abdel Rahman.Serangan bom bunuh diri melanda perayaan tahun baru Kurdi di Hasakeh, Suriah dan menewaskan 33 orang. Dilaporkan sebanyak 5 anak-anak dan banyak wanita termasuk dalam daftar korban tewas. "Sedikitnya 33 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri di Hasakeh, termasuk lima anak. Banyak wanita di antara korban tewas," imbuh Abdel Rahman. Syrian Observatory menambahkan, jumlah korban luka maupun korban tewas diperkirakan masih bisa bertambah. Menurut Abdel Rahman, pelaku di balik serangan bom bunuh diri ini diduga kuat adalah anggota ISIS. Diduga Gabung ISIS di SuriahSementara itu sembilan Mahasiswa kedokteran dari salah satu universitas di Inggris telah melakukan perjalanan secara ilegal ke Suriah. Mereka yang terdiri dari 4 wanita dan 5 laki-laki ini diduga akan bekerja di rumah sakit di daerah yang dikendalikan oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS. Sembilan mahasiswa tersebut berasal dari Pakistan, Lebanon, Irak. Sembilan mahasiswa kedokteran tersebut tercatat sebagai mahasiswa aktif dan duduk di semester akhir."Kita semua berasumsi bahwa mereka berada di Tel Abyad sekarang, yang berada di bawah kendali ISIS. Konflik di luar sana sengit, sehingga bantuan medis harus dibutuhkan," ujar politisi oposisi Turki Mehmet Ali Ediboglu yang dikutip Guardian, Minggu (22/3).Hal itu diungkapkan Ediboglu tak lama setelah bertemu dengan pihak keluarganya. "Mereka telah ditipu, dicuci otaknya. Itulah yang saya dan keluarga mereka pikirkan," ucap dia. Baik dia maupun orang tua yakin kesembilan petugas medis itu pergi tidak untuk berperang. Mereka adalah dokter. "Mari kita tidak melupakan fakta bahwa mereka adalah dokter; mereka pergi ke sana untuk membantu, bukan untuk melawan. Jadi hal ini adalah sedikit berbeda," ujar Ediboglu. Sembilan orang tersebut terbang dari ibukota Sudan ke Istanbul Turki pada Kamis 12 Maret 2015. Kemudian mereka naik bus ke perbatasan pada hari berikutnya dan menyeberang ke Suriah. (Detikcom/d)