Kabul (SIB)- Kelompok Syiah Afghanistan Hazara meminta dukungan kepada pemberontak Taliban, yang membunuh ribuan kelompok Hazara dalam selama tahun 1990-an, dengan mengadakan di Provinsi Ghazni timur, karena takut akan ancaman Negara Islam (IS) di negara tersebut.Menurut salah satu tetua Hazara Abdul Khaliq Yaqubi, dalam dialog itu, para komandan Taliban setuju untuk memberikan bantuan kepada mereka."Taliban setuju untuk memberikan bantuan," kata Yaqubi.Adapun dalam satu bulan terakhir, dua kelompok wisatawan Hazara diculik oleh beberapa pria yang diduga telah menyatakan janji setia kepada IS. Kesepakatan antara kedua belah pihak yang sebelumnya berseberangan ini menggambarkan kecemasan di Afghanistan akan hadirnya kelompok Negara Islam (IS) di negara yang selama sepuluh tahun lebih terlibat perang dengan Taliban.Sebelumnya pada Minggu (15/3), sekelompok orang bersenjata menghentikan dua mobil di wilayah Jaghori di Provinsi Ghazni, yang dihuni oleh kaum Hazara dan menculik delapan penumpang yang ada di dalamnya. Setelah kejadian itu, tujuh orang segera dibebaskan oleh penculik.Penculikan ini sendiri terjadi seminggu setelah beberapa orang berpenutup muka dan bersenjata menyandera 30 orang Hazara yang dibawa dari dua bus di Provinsi Zabul.Walau belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas kejadian ini, mayoritas orang Hazara meyakini IS berada di balik peristiwa itu.Belum ada sandera yang dibebaskan walau pasukan keamanan Afghanistan telah melakukan operasi penyelamatan. Dan pada minggu lalu, ratusan orang Hazara melakukan protes di ibu kota provinsi Ghazni agar sandera bisa segera dibebaskan.Kecemasan atas hadirnya IS ini membuat para tetua Ghazni, dari tiga desa di wilayah Jaghori, memutuskan melakukan pertemuan yang tidak biasa dengan pemimpin lokal Taliban."Taliban tidak menculik saudara-saudara Hazara kami di masa lampau dan kami tahu bahwa mereka juga melawan IS," kata anggota dewan provinsi Ghazni Hasan Reza Yousufi.Menurut para pengamat, ancaman IS semakin meningkat di Afghanistan karena kurangnya personel militer dan pecahnya kelompok Taliban di negara tersebut. Wakil Gubernur Provinsi Ghazni, Mohammad Ali Rahmadi, juga mengkhawatirkan ketakutan-ketakutan ini akan mempengaruhi warganya secara psikologis."Apakah IS ada atau tidak, dampak psikologis ketakutan ini berbahaya untuk Provinsii Ghazni, yang menjadi tempat tinggal berbagai etnis. Ini akan meningkatkan ketegangan," kata Mohammad Ali Rahmadi kepada Reuters.Sementara itu, banyak laporan mengatakan bahwa para pejuang yang mengklaim diri sebagai IS telah muncul di Afghanistan sejak musim panas lalu. Pertempuran juga telah terjadi antara pejuang yang setia kepada IS itu dan tentara Taliban.Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dalam laporan terkininya menyangkut Afghanistan mengatakan beberapa komandan Taliban telah menyatakan janji setia kepada IS, yang mencari pendanaan dan mengadakan kerja sama dengan kelompok bersenjata tersebut.Tetapi dalam laporan tersebut, Ban Ki-moon juga menyatakan "tidak ada indikasi adanya dukungan luas dan sistematis" untuk pejuang Afghanistan dari para pemimpin IS.Namun, pemerintah Afghanistan meyakini IS memang beroperasi di wilayahnya. "IS ada di sini," kata juru bicara Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Ajmal Abidy.Kelompok Krisis Internasional (ICG) di Kabul, berdasarkan laporan resmi, menyatakan ada kelompok kecil yang menyatakan diri sebagai pejuang IS yang beroperasi di enam provinsi di Afghanistan, dan ada desas desus yang mengatakan belasan anggotanya beroperasi di beberapa wilayah lain. (Ant/Rtr/q)