Inggris Didesak Perkuat Pertahanan Demi Imbangi Rusia

* Rusia Lebih Berhak atas Krimea Dibanding Inggris atas Falkland
- Rabu, 25 Maret 2015 12:58 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
London (SIB)- Inggris harus segera membangun kembali kekuatan militer yang sempat turun pasca-Perang Dingin untuk menghadapi ancaman global yang semakin besar, termasuk dari Rusia, demikian komite parlemen setempat menyatakan pada Selasa.Komite Pertahanan Bersama, yang memberi penilaian pada pembelanjaan dan kebijakan dari kementerian pertahanan, mengatakan, kemampuan nuklir, tank, kapal perang, dan pesawat tempur adalah hal yang harus dimiliki Inggris jika ingin membatasi pengaruh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Rusia pekan lalu mengumumkan langkahnya membangun kapal selam nuklir strategis generasi kelima. "Dunia saat ini semakin berbahaya dan tidak stabil dibandingkan pada periode manapun setelah berakhirnya Perang Dingin," tulis Komite Pertahanan dalam laporan. Mereka secara khusus menyebut peristiwa akesasi Krimea oleh Rusia serta munculnya kelompok garis keras baru seperti Daulah Islam dan Boko Haram yang berhasil menguasai sejumlah wilayah. "Asumsi pertahanan Inggris saat ini tidak cukup untuk menghadapi perubahan di dunia sekitar. Inggris harus kembali membangun kemampuan pertahanan yang menurun sejak Perang Dingin," tulis Komite Pertahanan.Komiter Pertahanan juga menyatakan bahwa Inggris perlu terus mematuhi komitmen NATO untuk mengalokasikan belanja militer sebanyak dua persen dari total produk domestik bruto. Meski demikian, angka dua persen menurut mereka "belum cukup"."Adalah hal penting untuk memikirkan ulang asumsi yang digunakan untuk merencanakan pertahanan kira, terutama jika kita ingin membatasi kekacauan yang hendak menyebar dari Mediterania Barat sampai ke Laut Hitam," kata laporan dari Komite Pertahanan.Laporan tersebut juga menunjuk pada lemahnya pertahanan NATO. Menurut perhitungan Komite Pertahanan Inggris, NATO membutuhkan enam bulan untuk menyiagakan 150.000 tentara sementara Rusia hanya butuh waktu 72 jam. Baru-baru ini, negara-negara NATO menyepakati pembentukan pasukan siaga bersama yang bisa menempatkan 5.000 tentara dalam waktu 48 jam mulai pada 2016 mendatang.Sementara itu mengenai pertahanan Inggris, Komite Pertahanan menilai bahwa negara tersebut akan kesulitan untuk memindahkan "barang-barang penting" melalui udara karena kekuatan pasukan udara telah berkurang dari 33 squadron menjadi hanya tujuh. Di laut, kekuatan kapal-kapal perang Inggris telah berkurang setengah dibanding tahun 1990.Menanggapi laporan dari parlemen, Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon, menyatakan, pertahanan Inggris masih kuat. "Inggris adalah negara dengan anggaran pertahanan terbesar kedua di antara negara-negara NATO dan menempati urutan pertama di Uni Eropa," kata Fallon. "Kami adalah rekanan terbesar Amerika Serikat dalam koalisi perang udara melawan Daulah Islam (ISIS)," kata dia.menanggapi celaan Inggris atas aneksasi semenanjung Krimea, anggota Parlemen Rusia, Alexei Pushkov mengkritik standar ganda yang diterapkan negara Barat, terutama Inggris kepada Rusia dengan menyebut kasus kepulauan Falkland yang dianeksasi Inggris dari Argentina.“Perhatian untuk London: Krimea memiliki lebih banyak alasan untuk berada dalam kekuasaan Rusia daripada Kepulauan Falkland berada dalam kekuasaan Inggris,” cuit Pushkov dalam akun Twitter-ny. Cuitan Pushkov ini dilayangkan untuk menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris Phillip Hammond yang mengutuk aneksasi semenanjung Krimea dari Ukraina tahun lalu. “Aneksasi Krimea adalah ilegal dan tidak sah pada Maret 2014, dan tetap ilegal dan tidak sah pada Maret 2015. Rusia harus mengembalikan Krimea kepada Ukraina,” demikian isi pernyataan Hammond.Kepulauan Falkland menjadi wilayah sengketa antara Inggris dengan Argentina. Pada 1982, Perang Falkland meletus untuk memperebutkan wilayah Falkland yang disebut dengan nama Malvinas oleh pihak Argentina. Perang tersebut menewaskan 900 orang prajurit dari kedua belah pihak.Mirip dengan yang terjadi di Krimea, sengketa Falkland akhirnya diselesaikan dengan cara referendum pada Maret 2013 dengan hasil 99,8 persen penduduk Falkland memilih untuk berada di bawah pemerintahan Inggris. Hal ini, juga mirip dengan yang terjadi di Krimea di mana penduduk Krimea memilih bergabung dengan Rusia dengan jumlah suara 96,77 persen. Hasil referendum ini tidak diakui oleh Argentina dan tetap pada klaimnya bahwa Falkland adalah wilayah dari Argentina. Presiden Argentina Cristina Kirchner tampaknya sependapat bahwa Rusia dan Inggris sama buruknya dalam sengketa mengenai Krimea dan Falkland. Dia mengatakan, pengambilalihan Krimea tidak lebih baik dari tindakan yang dilakukan Inggris di Falkland.Lithuania Rekrut SukarelawanRusia coba mengembangkan sayapnya di beberapa wilayah Eropa Timur. Takut senasib dengan Ukraina, Lithuania pun mulai mempersiapkan diri dengan merekrut sejumlah sukarelawan untuk menambah kekuatan militer. Setelah menyelesaikan tugas sebagai seorang pengacara, Robert Juodka memasukkan sejumlah senjata miliknya ke dalam mobil. Kemudian dia bersama sejumlah rekannya mulai melakukan latihan untuk melawan Rusia.Juodka bergabung dengan Serikat Bersenjata Lithuania. Padahal, kelompok tersebut sudah dibubarkan oleh pemerintah itu. Anggota baru berdatangan setiap pekannya. Kini, tercatat ada sebanyak 10.000 orang yang bergabung dengan kelompok itu. “Agresi yang terjadi di Ukraina sangat membantu dalam perekrutan ini. Sebab, Ukraina sangat dekat dengan kami. Anggota kami terdiri dari termuda berusia 10 hingga 80 tahun,” kata Robert.Menurutnya, beberapa di antara anggota mereka merupakan orang-orang yang pernah menjadi tentara dan pernah perang di Afghanistan. Tentu, kemampuan orang-orang ini sangat membantu mereka. “Tujuannya adalah membantu tentara nasional jika kami diserang Rusia. Kami berpikir warga Ukraina terkejut. Kami akan bersiap diri,” sambungnya. (Ant/AFP/i)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Ketua MUI Labura Ajak Umat Muslim Saling Hargai Perbedaan Awal Puasa Ramadan 1447 H

Luar Negeri

Rayakan Imlek, KAI Divre I Hadirkan Pertunjukan Barongsai di Stasiun Lubuk Pakam

Luar Negeri

Jalan Menuju Nias Utara Bagaikan Kubangan Kerbau, Hambat Aktivitas Warga

Luar Negeri

TI Asahan Gelar Seleksi Atlet Untuk Persiapan Kejuaran dan Porprovsu

Luar Negeri

Sarang Narkoba dan Judi di Jermal Ditindak, Wakil Ketua DPRD Kota Medan Apresiasi Kinerja Kapolrestabes

Luar Negeri

Polres Labuhanbatu Sukseskan Senam Sehat dan Fun Run HPN 2026 di Rantauprapat