Perangi Milisi Houthi, Arab Saudi Serang Yaman

- Jumat, 27 Maret 2015 11:31 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sanaa (SIB)- Negara-negara Teluk Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi mulai melancarkan operasi militer terhadap para pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Dalam operasi militer ini, Saudi mengerahkan 100 pesawat tempur dan 150 ribu tentara. Selain itu, pesawat-pesawat dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain juga ikut serta dalam operasi besar-besaran ini. Mesir, Pakistan, Yordania dan Sudan saat ini juga siap untuk berpartisipasi dalam operasi pertempuran di darat. Demikian dilaporkan kantor berita Associated Press, Kamis (26/3)."Kampanye ini tujuannya untuk mencegah para pemberontak Houthi menggunakan bandara-bandara dan pesawat untuk menyerang Aden dan bagian-bagian Yaman lainnya serta mencegah mereka menggunakan roket-roket," tutur Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen.Serangan itu menewaskan setidaknya 13 warga sipil. "Tiga belas warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dalam serangan Saudi," ujar sumber pertahanan sipil Yaman. Serangan itu juga dilaporkan menewaskan sejumlah pimpinan Kelompok Houthi. Pimpinan Kelompok Houthi yang tewas yakni Abdel Khalik Al-Houthi, Yousef al-Madani, dan Youssel al-Fishi. Mereka tewas di lokasi persembunyiannya Kota Sanaa, Yaman. Meski demikian, Kelompok Houthi belum memberikan keterangan kebenaran atas tewasnya pimpinan mereka.Menurut saksi mata, warga setempat membantu para petugas pertahanan sipil untuk mencari korban-korban lainnya, yang mungkin masih tertimpa puing-puing bangunan tujuh rumah yang hancur dalam serangan udara itu. Rumah-rumah penduduk itu berlokasi di kawasan yang berdekatan dengan bandara internasional dan pangkalan udara yang dikuasai pemberontak Houthi, yang menjadi target serangan udara Saudi.Sebelum melancarkan serangan besar-besaran ini, Saudi lebih dulu berkonsultasi dengan Amerika Serikat. Gedung Putih menyatakan, AS mendukung operasi militer ini dan Presiden Barack Obama pun telah mengizinkan dukungan logistik dan intelijen AS. Meski ditegaskan bahwa AS tidak ikut serta dalam operasi militer ini."Meski pasukan AS tidak ikut langsung dalam operasi militer di Yaman ini, untuk mendukung upaya tersebut, kami membentuk Unit Perencanaan Gabungan dengan Arab Saudi guna mengkoordinasikan dukungan intelijen dan militer AS," ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Bernadette Meehan dalam statemen.Sumber militer Yaman mengatakan, serangan udara Saudi telah menghantam sejumlah posisi pemberontak Houthi di berbagai lokasi di Sanaa. Termasuk, pangkalan udara al-Daylami dan bandara internasional di dekatnya, serta kompleks kepresidenan yang direbut pemberontak pada Januari lalu.Sebelumnya, stasiun televisi yang dikelola Houthi melaporkan, puluhan orang tewas dalam serangan udara Saudi di kawasan pemukiman di Sanaa. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah Menteri Luar Negeri Yaman Riad Yassin memohon negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk melakukan intervensi militer terhadap pemberontak Houthi.Pemimpin senior Houthi berang atas serangan militer ini. Mohammed al-Bukhaiti mencetuskan, serangan militer Saudi dkk berarti agresi terhadap Yaman dan dia mengancam, serangan ini akan memicu "perang yang melebar" di wilayah tersebut."Rakyat Yaman adalah rakyat yang bebas dan mereka akan melawan para agresor. Saya ingatkan Anda bahwa pemerintah Saudi dan pemerintahan Teluk akan menyesali agresi ini," ujar al-Bukhaiti, pemimpin senior Houthi kepada stasiun televisi Al-Jazeera. "Operasi militer akan menyeret wilayah ini ke perang yang melebar," tandasnya. Al-Bukhaiti menegaskan kelompoknya siap melakukan perlawanan tanpa meminta bantuan dari sekutu mereka, Iran. "Tidak. Rakyat Yaman siap menghadapi agresi ini tanpa intervensi asing."Konflik di Yaman terjadi setelah kubu pemberontak Houthi melengserkan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi. Hadi kemudian berupaya mempertahankan kekuasaannya dengan mengungsi dari ibukota Sanaa dan mendirikan pusat pemerintahan di kota Aden. Operasi militer ini dilakukan setelah Houthi terus bergerak mendekati kota Aden, dan ini dikhawatirkan akan mengancam keselamatan Presiden Hadi.Sepak terjang kaum Houthi telah membangkitkan dugaan Arab Saudi, bahwa aksi mereka disokong oleh pemerintah Iran, yang juga beraliran Syiah. Namun, baik kaum Houthi dan Iran menepis dugaan tersebut. Meski demikian, ada kekhawatiran bahwa operasi militer Saudi dkk akan memicu konflik baru yang menyeret Iran. Arab Saudi CerobohPemerintah Iran mengecam Arab Saudi karena melancarkan serangan udara terhadap para pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan langkah berbahaya yang melanggar tanggung jawab internasional dan kedaulatan nasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Marzieh Afkham mengatakan, aksi militer tersebut akan memperkeruh situasi, memperluas krisis dan menghilangkan kesempatan untuk mencapai solusi damai atas masalah internal Yaman."Agresi ini tak akan menghasilkan apapun kecuali memperluas terorisme dan ekstremisme, dan meningkatkan ketidakamanan di seluruh wilayah," cetus Afkham dalam statemen. Pejabat Iran itu pun menyerukan dihentikannya segera serangan-serangan udara tersebut. Hal senada disampaikan Alaedin Boroujerdi, kepala komisi kebijakan luar negeri dan keamanan nasional parlemen Iran."Fakta bahwa Arab Saudi telah mengobarkan api perang baru di wilayah ini menunjukkan kecerobohannya," cetusnya seperti dikutip kantor berita Iran, Fars. "Asap dari api ini akan masuk ke mata Arab Saudi karena perang tak pernah terbatas di satu tempat saja. Kami harap operasi militer ini akan dihentikan segera dan masalah Yaman diselesaikan lewat cara-cara politik," tandasnya.Namun tindakan pemerintah Arab Saudi mendapat dukungan dari pemerintah Turki dan Inggris. Turki bahkan menyerukan Houthi dan para pendukung asingnya untuk menghentikan aksi-aksi, yang mengancam perdamaian dan keamanan di wilayah tersebut.Disebutkan kementerian luar negeri Turki, pemerintah Saudi telah memberitahu Ankara mengenai operasi militer tersebut sebelum memulai serangan udara. Turki yakin bahwa serangan militer ini akan menghidupkan kembali otoritas negara yang sah dan mencegah terjadinya perang saudara di Yaman. Sementara pemerintah Inggris berpendapat operasi ini terkait dengan aksi-aksi Houthi belakangan ini, yang menunjukkan ketidakpedulian mereka atas proses politik. "Kami mendukung intervensi militer Arab Saudi di Yaman menyusul permintaan Presiden Hadi agar mendukung dengan semua cara dan langkah guna melindungi Yaman dan menangkal agresi Houthi," demikian disampaikan Kantor Luar Negeri Inggris."Aksi-aksi dan ekspansi Houthi belakangan ini di Aden dan Taiz merupakan sinyal lebih jauh atas ketidakpedulian mereka pada proses politik. Namun pada akhirnya, solusi atas krisis ini haruslah solusi politik," demikian disampaikan.(Detikcom/d)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Ketua MUI Labura Ajak Umat Muslim Saling Hargai Perbedaan Awal Puasa Ramadan 1447 H

Luar Negeri

Rayakan Imlek, KAI Divre I Hadirkan Pertunjukan Barongsai di Stasiun Lubuk Pakam

Luar Negeri

Jalan Menuju Nias Utara Bagaikan Kubangan Kerbau, Hambat Aktivitas Warga

Luar Negeri

TI Asahan Gelar Seleksi Atlet Untuk Persiapan Kejuaran dan Porprovsu

Luar Negeri

Sarang Narkoba dan Judi di Jermal Ditindak, Wakil Ketua DPRD Kota Medan Apresiasi Kinerja Kapolrestabes

Luar Negeri

Polres Labuhanbatu Sukseskan Senam Sehat dan Fun Run HPN 2026 di Rantauprapat