Ankara (SIB)- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Rabu, melancarkan serangan paling pedas terhadap wartawan, dengan menuduh mereka menjadi kaki tangan dalam pembunuhan seorang jaksa di Istanbul pekan lalu. Pemerintah bereaksi keras atas dimuatnya foto-foto yang menunjukkan jaksa Mehmet Selim Kiraz ditawan oleh kelompok sayap kiri di bawah todongan senjata di kepalanya, dengan memblokir sementara akses ke Twitter, Facebook, dan YouTube.Erdogan yang berulang kali dikritik atas tergerusnya kebebasan pers selama satu dekade kepemimpinannya di Turki, juga menuding beberapa jurnalis sebagai "pembunuh dan pencuri". "Pers yang membuka halaman dan layar mereka bagi propaganda teroris terlibat dalam pembunuhan jaksa kami," kata Erdogan. "Saya mengecam keras lembaga pers yang berada di pihak teroris," imbuh dia dalam pidato mingguan di hadapan para kepala desa seluruh Turki di istana kepresidenan di Ankara.Kiraz tewas saat polisi melancarkan operasi untuk menyelamatkannya dari milisi sayap kiri. Pihak berwenang bersikeras bahwa dua penyandera yang tewas melepaskan tembakan fatal. Media Turki menggunakan foto yang disebarkan di media sosial oleh kelompok militan, dengan jaksa ditodong senjata di kepalanya. Harian ternama Hurriyet meletakkan foto tersebut di halaman depan keesokan harinya."Di negara-negara barat yang dianggap sebagai asal demokrasi, situasi semacam itu tidak akan pernah terjadi," kata Erdogan. "Di negara-negara tersebut, institusi pers yang menjadi alat propaganda terorisme dan teroris akan menjadi sasaran pelarangan," imbuh dia.Ia mengatakan beberapa orang yang bertindak seperti jurnalis pada kenyataannya adalah "teroris". "Mereka ini pembunuh polisi, mereka pencuri (yang mengambil) dari ATM. Mereka membunuh tentara dan mereka melemparkan bom," kata Erdogan.Ia mengatakan sementara kelompok hak asasi Barat menuding Turki memenjarakan jurnalis, "orang-orang ini sesungguhnya adalah teroris". Turki merupakan negara yang paling banyak memenjarakan wartawan pada 2012 dan 2013, menurut data Komite Internasional untuk Melindungi Jurnalis, sebelum peringkatnya membaik pada posisi ke 10 pada 2014. Erdogan sebelumnya berkukuh bahwa negaranya mempunyai "pers paling bebas di dunia". (Ant/AFP/q)