Damaskus (SIB)- Kelompok radikal ISIS terus merajalela. Para militan ISIS menyandera setidaknya 50 warga sipil dalam serangan ke sebuah desa di Suriah. Mereka diculik dari desa Mabujeh di provinsi Hama pada 31 Maret lalu. Menurut laporan kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, yang dipimpin Rami Abdel Rahman seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (10/4), berita penculikan tersebut tadinya sengaja dirahasiakan karena negosiasi pembebasan mereka sedang berlangsung. Namun kini pembicaraan tersebut terhenti.
Sebanyak 10 orang dari mereka yang diculik ISIS tersebut, termasuk enam wanita, adalah penganut Ismaili, sekte minoritas yang merupakan cabang dari aliran Syiah. Sisanya sebanyak 40 orang lainnya adalah warga Sunni, termasuk setidaknya 15 wanita. "Ada kekhawatiran bahwa wanita-wanita itu dijadikan sebagai budak," tutur Abdel Rahman kepada AFP.
Dikatakannya, penganut Ismaili diculik karena ISIS menganggap mereka sebagai "kafir". Sementara warga Sunni -- meskipun mereka berasal dari sekte yang sama dengan ISIS -- diculik karena ISIS menganggap mereka "loyal kepada Ismaili".
Mabujeh memiliki populasi yang terdiri dari Sunni, Ismaili dan Alawite, cabang lain dari Syiah yang merupakan sekte Presiden Suriah Bashar al-Assad dan klannya. Sebelumnya pada 31 Maret lalu, ISIS mengeksekusi mati setidaknya 37 warga sipil di Mabujeh, termasuk dua anak-anak. Menurut Observatory, mereka dibakar, dipenggal dan ditembak mati.
Sementara Wapres AS Joe Biden mengapresiasi upaya pemerintah Irak memerangi kelompok ISIS. "ISIS mulai kehilangan momentum di Irak dan kemampuan mereka untuk bermanuver berkurang," ucap Biden dalam pidato di Universitas Pertahanan National di Washington DC. Menurutnya, ISIS juga tak bisa lagi memobilasi anggota sebanyak dulu.
"Dengan bantuan kita, Irak berhasil mencatat kemajuan penting di medan pertempuran. Delapan bulan lalu, ISIS melancarkan serangan di mana-mana. Tidak ada kekuatan di Irak atau Suriah yang mampu menghadang mereka," kata Biden. "Tapi sekarang ISIS kehilangan banyak wilayah yang dulu mereka kuasai. Momentum ISIS di Irak bisa dihentikan," tambah dia.
Namun Wapres Biden mengakui perang melawan ISIS adalah perang jangka panjang, dan mendesak para pemimpin Irak untuk tetap fokus dan tidak kehilangan arah. "Seluruh dunia, (negara-negara) di seluruh kawasan mengamati dari dekat situasi ini. Upaya para pemimpin Irak jangan berkurang ... dan itu antara lain tergantung dengan perdana menteri, tapi tentunya tidak hanya perdana menteri. Semua pemimpin Irak harus bersatu," ucap Biden. Pidato tentang ISIS di Irak disampaikan Biden menjelang kedatangan Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi ke Washington pekan depan. Ia dijadwalkan bertemu Presiden Barack Obama. (Tnt/Ein/d)