Islamabad (SIB)- Setelah melalui rapat, Parlemen Pakistan memutuskan untuk menolak ajakan koalisi negara Arab yang dipimpin Arab Saudi untuk menggempur Yaman. Negara tersebut memilih untuk netral dan tidak terlibat konflik di Yaman. Selain itu, Parlemen Pakistan mendesak Perdana Menteri Nawaz Sharif untuk melakukan negosiasi dengan negara terkait untuk mewujudkan resolusi damai di Yaman.
"Perdana Menteri agar meminta negara terkait untuk menyelesaikan perbedaan secara damai dan diharapkan bisa bersikap netral," demikian pernyataan Parlemen Pakistan, seperti dimuat Al-Arabiya, Sabtu (11/4). Sikap parlemen ini berbeda dengan pernyataan PM Pakistan sebelumnya, yang menyatakan bersiap untuk memberikan bantuan militer ke Arab Saudi dan meminta dukungan parlemen. Hubungan Pakistan dan Arab Saudi selama ini berjalan baik.
Pakistan pernah membantu negeri kaya minyak itu ketika diserang Yaman Selatan. Namun sikap parlemen ini berbeda dengan sebelumnya, yang mendukung Saudi.
Pengamat dari Middle East Institute yang berbasis di Washington DC, Thomas Lippman menduga Pakistan menolak membantu lantaran tak ingin Iran turun tangan secara total untuk membeking Yaman, sehingga konflik makin meluas.
Sementara itu, operasi militer oleh koalisi Arab Saudi yang didukung Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, Maroko, Sudan dan Mesir ini terus berjalan. Koalisi militer baru-baru ini menggempur gudang senjata milik pasukan loyalisi mantan Presiden Ali Abdullah Saleh di Ibukota Sanaa yang juga bersekutu dengan pasukan Houthi.
Dalam konflik Yaman ini, sejatinya ada tiga kubu yang berseteru. Pertama, Al-Qaeda yang berseberangan dengan kelompok Houthi yang dibeking Presiden terguling Yaman Ali Abdullah Saleh dan pengikutnya. Di kubu lain, ada pasukan pemerintah Presiden Yaman saat ini, Abdrabbu Mansour Hadi yang tengah berkonflik keras dengan Ali Abdullah cs plus kelompok Houthi. Selain pasukan koalisi Arab Saudi, Al-Qaeda juga tengah berupaya menggempur kelompok Houthi yang kini telah menguasai Ibukota Sanaa sejak 6 bulan lalu.
Sementara pesawat kargo pembawa bantuan Palang Merah Internasional berhasil mendarat untuk kedua kalinya di ibukota Yaman, Sanaa. Di tengah pertempuran sengit antara kubu pemberontak Houthi dan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. "Kargo yang baru berbobot 35,6 ton. Dari jumlah itu, 32 ton merupakan bantuan obat-obatan dan sisanya alat pemurni air, generator listrik, dan tenda," kata juru bicara Palang Merah, Marie Claire Feghali.
Sebelumnya, pada Jumat 10 April, Palang Merah telah mengirim pesawat yang mengangkut 16 ton obat-obatan dan peralatan bedah. Pada saat bersamaan, badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) juga mengirim obat-obatan dan bahan makanan untuk 20 ribu anak-anak. "Suplai yang kami bawa menentukan hidup dan mati bagi anak-anak dan keluarga mereka," kata pejabat UNICEF, Julien Harneis.
Koordinator kemanusiaan PBB untuk Yaman, Johannes van der Klaauw, telah menyerukan kepada semua pihak bertikai untuk melakukan gencatan senjata sehingga bantuan dapat disalurkan kepada warga sipil. Sejauh ini, kata van der Klaauw, konflik telah menyebar ke 15 dari 22 provinsi di Yaman.
Kondisi paling parah terjadi di Aden. Di sana, pertempuran sengit kedua kubu berlangsung di sudut-sudut kota serta kendali bandara dan pelabuhan tiap hari berganti. Akibat situasi itu, sedikitnya sejuta orang tidak bisa menerima pasokan air bersih dalam beberapa hari mendatang.
Badan kesehatan dunia (WHO) mengatakan nyaris 650 orang tewas dan 2.200 lainnya cedera sejak 19 Maret. Namun, Van der Klaauw mengatakan jumlah itu amat mungkin jauh lebih tinggi, karena korban boleh jadi langsung dimakamkan dan banyak korban tidak dibawa ke rumah sakit. (BBC/i)