Washington (SIB)- Seorang demonstran nekat menerbangkan helikopter ke halaman gedung Capitol Amerika Serikat yang merupakan gedung parlemen. Demonstran antikorupsi ini akhirnya ditangkap karena melanggar zona dilarang terbang di Washington.Otoritas Penerbangan Federal (FAA) tengah menyelidiki insiden yang terjadi pada Rabu (15/4) waktu setempat ini, sebagai insiden pelanggaran keamanan nasional. FAA menyebut, pilot helikopter tersebut tidak melakukan komunikasi dengan pihak Air Traffic Controller (ATC) setempat saat menerbangkan helikopternya. "FAA tidak memberinya (pilot-red) izin untuk masuk ke wilayah udara terlarang," demikian pernyataan FAA seperti dilansir AFP, Kamis (16/4).Pilot yang menerbangkan helikopter ukuran kecil khusus untuk satu orang itu, diidentifikasi bernama Douglas Hughes yang berasal dari Florida. Dia langsung ditahan oleh US Capitol Police dan dijerat dakwaan melakukan transpor ilegal.Menurut media Florida, Tampa Bay Times, Hughes sengaja melakukan aksi melanggar hukum ini demi mengkampanyekan reformasi keuangan di AS. Bahkan dia sempat diwawancara dan direkam oleh media setempat sebelum melakukan penerbangan nekatnya ini.Wilayah udara di sekitar kompleks Gedung Putih dan Capitol yang ada di Washington tergolong dilarang untuk umum. Sesaat setelah helikopter yang diterbangkan Hughes mendarat di halaman yang berjarak beberapa ratus meter dari Gedung Capitol, kepolisian setempat dan tim penjinak bom dikerahkan ke lokasi untuk memeriksa helikopter atau yang biasa disebut gyrocopter tersebut.Namun hasilnya tidak ditemukan adanya benda maupun bahan berbahaya di helikopter itu. Kompleks Gedung Capitol dan Gedung Putih sempat ditutup sementara saat insiden ini terjadi. Namun tidak dilakukan evakuasi terhadap orang-orang yang ada di dalam gedung.Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi dilaporkan tengah berada di dalam Gedung Capitol untuk menghadiri rapat dengan para senator AS saat insiden ini terjadi. Presiden Barack Obama sendiri telah diberitahu mengenai insiden ini. Kini kasus ini masih dalam penyelidikan otoritas setempat, termasuk FAA, Secret Service dan lembaga keamanan AS lainnya. (Detikcom/ r)