Abu Dhabi (SIB)- Kemelut bersenjata di Yaman mengganggu musim tanam dan menyeret negara di Timur Tengah tersebut ke jurang kekurangan pangan, kata Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Rabu (16/4). FAO bekerja sejak 2014 untuk mendukung petani Yaman, tapi mengatakan hanya empat juta dolar dari kebutuhan 12 juta dolar tersedia untuk kehidupan sehari-hari. "Keadaan memburuk berarti kami perlu menggandakan upaya untuk memastikan bahwa sebanyak mungkin petani dapat menanam pada musim tanam ini dan memperkuat kemampuan mereka untuk menahan guncangan pada masa depan," kata pernyataan Wakil Direktur Jenderal FAO untuk Afrika Utara dan Timur Dekat Abdessalam, Ould Ahmed.Koalisi negara Arab terus menghujani bom petempur Houthi dan pasukan setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh untuk menggagalkan upaya mereka merebut kota pelabuhan selatan, Aden. Sekitar 11 juta dari 26 juta warga Yaman dinyatakan sangat rawan pangan, sementara 16 juta memerlukan bantuan kemanusiaan dan tidak bisa mendapatkan air aman, kata FAO.Pasar terganggu dan harga pangan melonjak akibat peningkatan permintaan menjelang panen jagung dan sorgum 2015. "Kita memasuki masa penting untuk hasil tanaman di Yaman dan sekarang, lebih dari sebelumnya, pertanian tidak dapat menjadi harapan jika kita ingin mencegah lebih banyak orang menjadi rawan pangan di tengah-tengah kemelut ini," kata Perwakilan FAO untuk Yaman, Salah Haji Hassan.Harga makanan di kota pelabuhan barat, Hodeidah, naik dua kali lipat dan harga bahan bakar meningkat empat kali lipat, kata FAO. Dengan kebanyakan orang hidup dari tanah dan sekitar 90 persen sumber air Yaman, yang digunakan dalam pertanian, warga Yaman sangat rentan ketika kemelut mengganggu hasil pertanian. Hampir dua-pertiga dari warga Yaman bekerja di bidang pertanian, tapi negara itu mendatangkan sekitar 90 persen dari kebutuhan gandum dan 100 persen dari keperluan akan beras.FAO kepada Reuters pada awal April menyatakan kemelut itu akan berdampak pada ketersediaan pangan dan mendorong harga naik lebih cepat daripada yang diperkirakan, meskipun pemerintah menyatakan cukup makanan untuk enam bulan.Serangan UdaraSerangan udara yang dilakukan pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi di Yaman, diklaim sangat sukses. Bahkan Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat menyebut serangan udara ini berjalan melampaui tujuan yang ditetapkan. "(Serangan udara) mampu melumpuhkan dan menghancurkan banyak infrastruktur militer yang dikuasai Houthi dan Saleh (mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh)," tutur Duta Besar Saudi untuk AS, Adel al-Jubeir seperti dilansir AFP, Kamis (16/4).Kepada wartawan di Washington, Dubes Jubeir menyatakan, pihaknya mulai melihat perpecahan di dalam tubuh pemberontak Houthi dan jajaran militer pembela Saleh. Kedua kelompok itu berniat mengambil alih kekuasaan Yaman, setelah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi mengasingkan diri ke Saudi."Kami melihat komandan militer yang membelot, mulai kembali ke militer Yaman," sebutnya. "Kami mengharapkan untuk melihat lebih banyak lagi dari mereka (yang kembali) seiring semakin meningkatnya tekanan," imbuh Jubeir. "Operasi ini akan terus berlanjut hingga target kita tercapai. Tidak ada langkah setengah-setengah," tegasnya.Lebih lanjut, Dubes Jubeir menyebut penyaluran senjata dari Iran kepada pemberontak Houthi telah berhenti semenjak serangan udara koalisi Saudi dilancarkan pada 26 Maret dan semakin ditingkatkan dalam tiga minggu terakhir. "Kami menguasai udara dan inspeksi kapal. Kami tidak melihat adanya penyaluran persenjataan dari Iran kepada Houthi dengan kapal," tuturnya.Komisi pertahanan lokal di Yaman yang didukung Saudi, juga mulai mengalami kesuksesan dalam pertempuran melawan Houthi. Mereka berhasil merebut sebagian wilayah Aden dan wilayah lainnya yang dikuasai Houthi. "Koalisi berhati-hati dalam menyerang target militer dan meminimalkan korban sipil," tandas Jubeir.Utusan PBB MundurUtusan perdamaian PBB untuk Yaman, Jamal Benomar, memutuskan untuk mengundurkan diri. Pengunduran diri dilakukan setelah dirinya kehilangan dukungan dari negara-negara Teluk Arab atas misinya di negara yang dilanda konflik tersebut.Semula, diplomat Maroko tersebut telah menjadi utusan khusus Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk Yaman sejak tahun 2012 silam. "Benomar telah menyatakan minat untuk pindah ke penugasan lainnya. Penggantinya akan ditunjuk pada waktunya," demikian statemen PBB seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (16/4).Di antara para kandidat yang mungkin menggantikan posisi Benomar adalah diplomat Mauritania, Ismail Ould Cheikh Ahmed, yang saat ini memimpin misi Ebola PBB.Pengunduran diri Benomar terjadi setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang menyerukan penghentian kekerasan di Yaman dan segera dilanjutkannya perundingan damai antara pihak-pihak yang bertikai. Negara-negara Teluk menuding Benomar telah diperdaya oleh pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Sebabnya, kelompok pemberontak tersebut telah melakukan perundingan damai sementara mereka juga terus melakukan serangan-serangan di Yaman. (AFP/dtc/q)