Hongkong (SIB)- Seorang politisi senior Hongkong menuai kecaman setelah menuding pembantu rumah tangga asal Filipina menggoda lelaki majikan mereka, dalam tanggapan, yang dinilai kritikus bersifat rasis dan menyerang.Di Hongkong terdapat sekitar 300 ribu pembantu rumah tangga, sebagian besar berasal dari Filipina dan Indonesia. Kelompok hak asasi manusia prihatin dengan nasib mereka setelah muncul serangkaian penyiksaan.Namun, legislator Regina Ip, penasihat dekat pemimpin kota tersebut Leung Chun-ying yang digadang-gadang menjadi calon kepala eksekutif, justru menyebut para pekerja domestik itu sebagai perusak rumah tangga.Dalam artikel di harian berbahasa China "Ming Pao", Jumat, Ip mengatakan para istri ekspatriat mengeluh padanya bahwa pembantu rumah tangga telah menyebabkan para suami mereka berbuat serong."Saya menerima keluhan dari perempuan-perempuan ekspatriat... bahwa pekerja domestik Filipina menggoda suami mereka," tulis Ip."Saya hanya bisa katakan pada mereka bahwa berdasar hukum saat ini cukup sulit untuk mengatur masalah tersebut," katanya.Ip mengatakan ia telah mempelajari "kehancuran keluarga karena hubungan antara pembantu rumah Filipina dengan majikan lelaki"."Daripada melaporkan tingkah tak pantas oleh majikan setempat, apakah tidak sebaiknya kita memberi perhatian lebih pada pekerja Filipina ini untuk menjadi sumberdaya seksual bagi lelaki asing di Hongkong?" tanyanya.Dalam artikel itu Ip mengaitkan teorinya dengan kasus terakhir seorang remaja perempuan umur 15 tahun, dengan ayah berdarah Inggris dan ibu Filipina, yang jatuh dari apartemen mewah, diduga bunuh diri awal bulan ini.Meskipun polisi mengatakan tidak ada kondisi mencurigakan di seputar insiden tersebut, ibu si remaja Herminia Garcia --mantan pekerja domestik-- dan ayahnya yang merupakan pengusaha Inggris Nick Cousins, ditahan.Garcia didakwa atas visa yang melebihi masa tinggal serta mengabaikan anak usia 14 tahun yang tidak disebutkan namanya itu. Sedangkan Cousins mendapat jaminan karena mengabaikan serta bersekongkol dalam kasus visa lewat masa tinggal, namun ia tidak didakwa.Ip menyebut kasus mereka "refleksi" dari apa yang ia gambarkan sebagai "hubungan tidak wajar" antara pembantu rumah tangga dengan majikannya."Adalah rasis untuk menyebutkan kewarganegaraan tertentu," kata Eman Villanueva dari Badan Koordinasi Migran Asia yang bermarkas di Hongkong."Ia seharusnya dilarang masuk Filipina," katanya.Legislator Partai Sipil Claudia Mo mengajukan surat ke Komisi Kesetaraan Kesempatan dan menyebut komentar tersebut sebagai "diskriminatif secara rasial"."Pekerja domestik asing diperlakukan seperti warga kelas dua oleh beberapa politisi yang merasa tidak ragu membuat pernyataan menyerang mengenai mereka," kata Mo kepada AFP, Senin (20/4).Ip yang merupakan anggota Dewan Eksekutif atau kabinet mengatakan bahwa komentarnya itu telah disalahartikan."Saya hanya mengutip beberapa fakta," katanya."Tujuan artikel ini adalah untuk mengungkapkan keprihatinan atas pekerja domestik asing dan apakah mereka telah dieksploitasi... Saya tidak menunjuk pada siapapun," katanya.Penderitaan para pembantu rumah tangga di Hongkong disoroti dengan munculnya kasus pembantu asal Indonesia Erwiana Sulistyaningsih yang dipukuli dan dibiarkan kelaparan oleh majikannya Law Wan-tung, dalam kasus yang menjadi berita utama dunia.Law dijatuhi hukuman penjara enam tahun pada Februari.Sebagai menteri keamanan pada 2003 Ip merupakan pendukung utama UU keamanan nasional yang memantik unjuk rasa terbesar di kawasan itu dan akhirnya UU itu dibatalkan. (Ant/AFP/q)