Washington (SIB)- Otoritas Amerika Serikat mengerahkan salah satu kapal induknya ke wilayah perairan Yaman di tengah konflik yang semakin meluas. Kapal induk ini akan bergabung dengan kapal-kapal AS lainnya yang ada di perairan tersebut. Kapal induk bernama USS Theodore Roosevelt ini tengah berada di perairan Teluk untuk meluncurkan serangan terhadap militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Nantinya kapal ini akan berlayar melintasi Selat Hormuz untuk kemudian menuju ke Teluk Aden dan Laut Merah. Kapal induk ini bergerak ke perairan Yaman dengan dikawal oleh USS Normandy yang merupakan kapal pengawal dengan rudal jelajah. Begitu tiba di perairan Yaman, kapal induk AS ini akan memantau lalu lintas kapal di perairan tersebut. "Memastikan jalur pelayaran penting di wilayah tersebut, tetap terbuka dan aman," demikian pernyataan US Navy seperti dilansir AFP, Selasa (21/4).Dengan demikian, kini ada 9 kapal milik AS di dekat perairan Yaman, yang terus dilanda konflik antara pemberontak Houthi dengan tentara pemerintah yang dibantu serangan udara koalisi Arab Saudi. Dalam pernyataannya, AS menegaskan, pihaknya tidak akan ikut serta dalam serangan udara koalisi Saudi, melainkan memberikan dukungan logistik dan bantuan intelijen.Secara terpisah, juru bicara Pentagon Kolonel Steven Warren membantah laporan yang menyebut kapal-kapal AS di perairan Yaman diperintahkan untuk mencegat kapal-kapal Iran yang membawa suplai senjata untuk pemberontak Houthi. Sementara itu, paramedis Yaman mengatakan jumlah warga sipil yang tewas akibat serangan udara Arab Saudi dan koalisi terhadap depot misil di Sanaa, Yaman telah bertambah menjadi 38 orang. Sebanyak 532 orang lainnya luka-luka dalam serangan pada Senin, 20 April tersebut.Angka terbaru ini didasarkan pada angka-angka dari empat rumah sakit. Sebelumnya dilaporkan 28 orang tewas dan sekitar 300 orang terluka. Di antara mereka yang tewas termasuk tiga pegawai stasiun televisi Al-Yemen Al-Yawm, yang salah satunya merupakan jurnalis.Serangan udara Saudi ini menimbulkan ledakan-ledakan hebat yang menghancurkan rumah-rumah warga dan bangunan-bangunan di sekitarnya, termasuk KBRI. Dua staf KBRI dan seorang WNI terluka dalam insiden tersebut.Target serangan adalah depot misil Scud milik brigade elit Garda Republik, yang tetap setia pada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, yang telah bersekutu dengan para pemberontak Syiah Houthi dalam upaya mereka melawan pemerintahan Yaman di bawah pimpinan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi.Tak Ada Gencatan SenjataSementara itu Arab Saudi menegaskan tidak ada gencatan senjata di Yaman hingga Kelompok Houthi keluar dari kursi pemerintahan. Hal ini disampaikan utusan Kerajaan Arab Saudi untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Abdallah al Muallami ketika berkunjung ke New York, Amerika Serikat (AS).“Kami memang menginginkan gencatan senjata secepatnya. Namun, kondisi ini akan sulit terwujud mengingat Kelompok Houthi masih berada di Yaman,†ujar Abdallah al Muallami. Sebelumnya, Sekjen PBB Ban Kii Moon telah meminta diadakan gencatan senjata di Yaman agar bantuan kemanusiaan bisa masuk.Dewan Keamanan PBB (DK PBB) juga telah mengeluarkan resolusi yang isinya meminta Kelompok Houthi untuk keluar dari Pemerintahan Yaman. Namun, Kelompok Houthi belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Mereka masih menguasai Ibu Kota Sanaa khususnya di sekitar kompleks Istana Kepresidenan Yaman.Al-Houthi mengecam operasi militer pimpinan Arab Saudi dan berikrar akan melakukan tindakan yang lebih keras guna menghadapi pasukan koalisi dan petempur suku Sunni. Pemimpin kelompok tersebut Abdul Malik Al-Houthi mengecam Arab Saudi karena mencampuri urusan dalam negeri Yaman, dan mengatakan "kami dapat memutuskan politik kami, membentuk pemerintah kami."Itu adalah pidato pertama yang ditayangkan televisi sejak 26 Maret, ketika Arab Saudi memulai serangan udara di Yaman yang telah menghancurkan banyak kamp militer yang dikuasai oleh petempur Al-Houthi. Ia tidak mengungkapkan tempat ia berbicara. Namun beberapa sumber militer mengatakan pemimpin Al-Houthi tersebut bersembunyi di wilayah pegunungan di Provinsi Saada di Yaman Utara, yang berbatasan dengan tetangganya yang kaya akan minyak."Kami menguasai lembaga pemerintah untuk melindunginya dari Al-Qaida ... mereka meminta kami mundur dari kementerian dan dari provinsi di selatan untuk mengizinkan Al-Qaida menguasainya ... dan itu takkan terjadi," kata Abdul Malik Al-Houthi, sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang kini hidup di pengasingan, pekan lalu di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, mengangkat Perdana Menteri Khaled Bahah sebagai Wakil Presiden pekan lalu. Bahah mengatakan perundingan yang melibatkan semua partai politik di Yaman takkan diadakan sampai Hadi kembali ke Aden dan senjata anggota Al-Houthi dilucuti. (Detikcom/d)