Koalisi Pimpinan Arab Saudi Dituduh Pakai Bom Curah

* Milisi Houthi Minta PBB Akhiri Serangan Arab Saudi
- Senin, 04 Mei 2015 13:01 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/05/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Dubai (SIB)- Koalisi pimpinan Arab Saudi telah menggunakan bom kluster atau bom curah yang dipasok Amerika Serikat dalam serangan udaranya terhadap pemberontak Yaman, kata Human Rights Watch (HRW). Seperti dilaporkan AFP, Minggu (3/5), HRW memperingatkan bahaya jangka panjang bom jenis ini terhadap warga sipil. Bom terlarang yang digunakan ini mengandung lusinan submunisi yang kadang tidak meledak, dan menjadi ranjau yang bisa membunuh atau melukai jauh setelah bom itu dijatuhkan.

HRW mengaku telah mengumpulkan foto, video dan bukti lainnya yang menunjukkan munisi bom curah telah digunakan dalam serangan udara koalisi ke kubu utama pertahanan milisi Houthi di Provinsi Saada, Yaman utama yang bergunung-gunung. HRW mengatakan, analisis citra satelit menunjukkan bahwa senjata itu telah menerjang sebuah dataran tinggi subur dalam jarak 600 meter dari daerah padat penduduk.

Munisi curah atau tandan dilarang Pakta 2008 yang diadopsi  116 negara, kecuali Arab Saudi dan sekutu-sekutunya serta AS. "Serangan udara bermunisi curah pimpinan Saudi telah menghantam wilayah-wilayah dekat pedesaan yang mengakibatkan warga setempat ada dalam bahaya," kata direktur persenjataan HRW Steve Goose. "Arab Saudi dan anggota-anggota koalisi lainnya --serta sang pemasok, AS-- tengah mencemooh standard global yang menolak munisi curah karena ancaman jangka panjangnya terhadap warga sipil."

HRW mengatakan munisi yang digunakan di Yamam ini adalah dari jenis CBU-105 Sensor Fuzed Weapons yang dibuat oleh Textron Systems Corporation dan dipasok baik ke Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab oleh AS dalam beberapa tahun belakangan.

Senjata ini dilarang Konvensi Senjata Curah namun Washington membolehkan penggunaan senjata jenis ini dan mengekspornya karena kemungkinan untuk tidak meledaknya hanya kurang dari satu persen. HRW menyerukan bolong ketidakmeledakkan bom ini ditutup dan mengurangi pengiriman senjata jenis ini.

Sementara itu kelompok pemberontak Yaman Houthi semakin terdesak. Serangan udara dari Militer Arab Saudi sukses membuat Milisi tersebut pontang-panting mempertahankan beberapa kota penting di Yaman yang sempat mereka rebut. Melihat mereka sudah mulai kehabisan tenaga, Pemberontak Houti akhirnya buka suara. Mereka meminta agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Arab Saudi menghentikan serangan udaranya. Bukan tanpa alasan, Pemberontak Houthi mendeskripsikan serangan udara Arab Saudi sebagai agresi yang membabi-buta. Akibatnya, beberapa wilayah di Yaman porak-poranda.

"Kami ingin menekankan situasi tragis ini terjadi karena agresi berkelanjutan dari Arab Saudi pada negara dan rakyat Yaman," sebut Pejabat Hubungan Luar Negeri Houthi Hussein al-Ezzi, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (3/5).

Tak main-main surat terbuka itu langsung ditujukan Milisi Houthi kepada Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon, Dia meminta agar PBB turun tangan agar keadaan di Yaman bisa kembali kondusif. "Kami menantikan peranan kemanusiaan aktif dari anda (PBB) agar serangan udara Saudi bisa diakhiri," sambung dia. Al-Ezzi menyebut serangan dari Arab Saudi tak bisa dibenarkan. Sebab, mereka melakukan intervensi tanpa alasan yang jelas.

Dari data PBB, semenjak Yaman diterjang konflik sudah 600 orang tewas. Jumlah warga yang terluka bahkan lebih mengejutkan lagi mencapai 2.200 orang. 

Sementara 100 ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. Yaman bergejolak setelah Milisi Houthi, yang berjuang untuk mendapatkan peningkatan otonomi di Provinsi Saada, melancarkan pemberontakan secara berkala sejak 2004. Aksi mereka yang paling signifikan terjadi sejak Juli 2014.

Puncaknya pada September 2014, ketika mereka menguasai Ibu Kota Sanaa, menyandera staf kepresidenan, dan menembaki kediaman Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi. Kondisi ini kemudian membuat Arab Saudi dan sekutunya turun tangan. (Ant/AFP/d)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

PT Medan Perberat Uang Pengganti Akuang Jadi Rp856,8 Miliar dalam Kasus Korupsi Suaka Margasatwa Karang Gading

Luar Negeri

1 Ramadan 1447 H Beda Penetapan, MUI Labura Ajak Umat Jaga Ukhuwah

Luar Negeri

Imlek 2026, Mal di Medan Dipadati Pengunjung dan Promo Diskon 70 Persen

Luar Negeri

Wanita 21 Tahun Curi Rokok di Grosir, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti

Luar Negeri

Jurtul Togel Ditangkap, Satreskrim Polres Tanjungbalai Sita Uang dan Buku Rekapan

Luar Negeri

Hujan Deras, Jemaah Tetap Penuhi Tarawih di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aek Kanopan Timur