Kiev (SIB)- Oleksandr Turchynov, Presiden sementara yang memimpin sejak tergulingnya Yanukovych, tidak memiliki kekuatan ril untuk membawa Ukraina keluar dari krisis. Efektifitas pemerintahannya, relatif lemah. Sebab dia hanya mengantarkan Ukraina sampai terselenggaranya Pemilu Juni 2014. Nah dalam waktu tiga bulan tersebut, apa yang bisa dia buat? Jangankan membentuk pemerintahan yang kredibel, mencari siapa yang bersedia duduk sebagai anggota kabinet untuk masa tiga bulan dalam waktu satu minggu, bukan persoalan mudah.Di tengah otoritas yang lemah dan kewenangannya yang terbatas, dia harus mampu meyakinkan rakyat Crimea agar tidak memisahkan diri dari Ukraina. Tapi untuk meyakinkan masyarakat Crimea, semakin sulit. Sebab ketidak percayaan mereka kepada rezim yang berkuasa di Kiev, ibukota Ukraina, sudah terlalu rendah.Lihat saja reaksi rakyat Crimea terhadap kehadiran tentara asing yang dicurigai berasal dari Rusia. Reaksi mereka lebih bersahabat. Para pemuda Crimea yang berpakaian sipil, mengenakan tanda pengenal bahwa mereka pendukung Rusia. Mereka ikut berjaga-jaga di semua gedung penting yang juga ikut dijaga oleh tentara asing yang dicurigai berasal dari Rusia.Situasinya bisa berbeda dengan di Kiev yang memiliki rasa anti Rusia telatif tinggi. Warga Crimea merasa masih bagian dari Rusia. Atau sebagai sesama etnik Rusia, rakyat Crimea merasa lebih aman dan terlindungi oleh kehadiran tentara Rusia.Dengan begitu kehadiran militer Rusia di Ukraina, tak bisa dianggap sebagai sebuah invasi. Apalagi menurut Dubes Rusia untuk PBB di New York, Vitaly Churkin, antara negaranya dengan Ukraina terdapat perjanjian yang saling membantu dan melindungi.Keadaan ini diperkirakan akan membuat situasi di Ukraina seperti bukan perang saudara. Melainkan perang antara Rusia dan Amerika Serikat. Hanya saja, posisi Amerika Serikat agak sulit. Sebab secara hukum, Amerika Serikat tidak memiliki hak individu melakukan hal serupa yang dilakukan Rusia di Crimea.Kalaupun Amerika Serikat mampu melakukannya, ia harus melalui negara ketiga atau pembentukan pasukan multi nasional. Tetapi siapa negara ketiga yang bisa membantu dalam waktu cepat? Sebab pada waktu yang bersamaan boleh jadi kekuatan Rusia di Krimia sudah semakin kuat. Memperkuat militer di Krimia, bukanlah pekerjaan yang sulit bagi Rusia. Sebab di sana sudah hadir pangkalan militernya.Lalu pembentukan pasukan multinasional, berarti harus melalui PBB. Namun di PBB pembentukan itu pasti akan diveto Rusia, negara yang bersama Amerika Serikat menjadi anggota tetap Dewan Keamanan.Pada saat yang berbeda, rakyat Crimea bisa memilih opsi baru. Yaitu mendeklarasikan kemerdekan wilayahnya. Kalau sudah merdeka, semakin sulit bagi Amerika Serikat mencari alasan. Sementara bagi Rusia, kemerdekaan Crimea bisa lebih memperkuat posisinya di semenanjung Laut Mati tersebut.Jalan terakhir yang akhirnya mungkin ditempuh Amerika Serikat adalah mengajak Rusia berunding. Namun sulit dipastikan kalau perundingan kedua negara yang sama-sama memiliki ego sentris yang tinggi, bisa menghasilkan kesepakatan damai.Sehingga pada akhirnya, demi martabat bangsa, pilihan terbaik dari semua yang terburuk adalah menyatakan perang terhadap Rusia. Dan jika itu yang terjadi, perang Rusia-Amerika Serikat tidak akan membuat masalah Ukraina terselesaikan. Yang terjadi Ukraina hancur dan dunia pun mungkin akan terimbas. Semoga tidak sampai terjadi. (Inc/w)