Washington (SIB)- Korea Utara dengan ambisi senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauhnya merupakan ancaman yang meningkat untuk Amerika Serikat, kata Pentagon, Selasa, dalam dokumen strategi terbaru.Menyebut rezim Pyongyang sebagai "tertutup dan otoriter", Departemen Pertahanan mengatakan militer AS akan mempertahankan kehadiran utamanya di wilayah itu dan mempertahankan investasi dalam pertahanan peluru kendali.Korea Utara merupakan "ancaman yang signifikan bagi perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea dan di Asia Timur Laut dan merupakan, ancaman langsung yang terus berkembang bagi Amerika Serikat," kata "Quadrennial Defense Review", sebuah laporan baru terkait strategi militer global.Pasukan Amerika Serikat akan terus bekerja sama erat dengan militer Korea Selatan "untuk mencegah dan membela provokasi Korea Utara," katanya.Peluncuran tinjauan strategis Pentagon itu muncul saat Korea Utara menguji coba kekuatan militernya tiga kali selama sepekan terakhir, menembakkan peluru kendali jarak pendek dan roket ke laut. Peluncuran uji coba itu bertepatan dengan latihan bersama Amerika Serikat - Korea Selatan yang menentang Pyongyang.Dokumen strategi itu mengatakan Amerika Serikat akan berusaha untuk tetap bersiap mengatasi ancaman persenjataan peluru kendali balistik di Iran dan Korea Utara. Disebutnya juga tentang rencana untuk meningkatkan jumlah penghalau di darat di kawasan AS dari 30 menjadi 44 seraya berinvestasi untuk memiliki sensor yang lebih baik.Pemerintah AS juga mengirimkan pengawasan radar kuat ke Jepang untuk memberikan peringatan dini pada setiap peluru kendali yang diluncurkan oleh Korea Utara, katanya.Korea Utara terus maju dengan program peluru kendalinya, tetapi para ahli telah menyuarakan skeptisisme atas klaim kepemilikan peluru kendali balistik antar-benua yang berfungsi.Untuk mempromosikan "stabilitas" di kawasan itu, pasukan AS akan menjaga "kehadiran yang kuat di Asia Timur Laut sekaligus meningkatkan kehadiran di Oceania dan Asia Tenggara," kata laporan itu.Para pejabat Amerika Serikat mengutip rencana pembangunan kapal, pengiriman marinir ke Australia dan perluasan pelatihan militer bersama dan latihan."Kami akan melanjutkan kontribusi kami pada penyeimbangan keberadaan AS di kawasan Asia - Pasifik, berusaha untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah yang semakin penting bagi kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan AS, " kata kajian itu.Pada saat yang sama, militer AS akan mempertahankan kehadiran "abadi" di Timur Tengah dan Teluk, lokasi sekitar 35.000 tentara ditempatkan, sambil juga menjaga hubungan dengan sekutunya di Eropa.Dokumen ini disusun sebelum krisis saat ini meletus di Ukraina, dengan pasukan pro - Rusia mengambil kendali de facto atas semenanjung Crimea. (Ant/AFP/f)