Rusia Tolak Berunding dengan Ukraina

* Kongres AS Minta Rusia Dicoret dari Keanggotaan G-8
- Kamis, 13 Maret 2014 15:57 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/03/hariansib_-Rusia-Tolak-Berunding-dengan-Ukraina.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/AP Photo/Frank Augstein
LEPAS LANDAS : Satu pesawat AWACS milik NATO lepas landas dari pangkalan udara di Geilenkirchen, Jerman, Rabu (12/3). NATO mengirim dua pesawat intai untuk mengawasi wilayah udara Ukraina dan pergerakan kapal di Laut Hitam saat Rusia mengkonsolidasi pasu
Moskow (SIB)- Para pemimpin Rusia menolak semua upaya perundingan dengan mitra mereka dari Ukraina, seperti dijelaskan penjabat presiden Ukraina, Oleksandr Turchynov. Dia juga mengatakan Ukraina tidak akan melakukan campur tangan militer di Krimea dan menyebut referendum di wilayah itu untuk memisahkan diri dari Ukraina merupakan penipuan."Sayangnya, untuk saat ini Rusia menolak penyelesaian diplomatik dalam konflik ini," tutur Turchyinov seperti dikutip kantor berita AFP. Sementara itu Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk sedang dalam perjalanan ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan Presiden Barack Obama.Hari Kamis (13/3), Yatsenyuk akan menyampaikan pidato di Dewan Keamanan PBB di New York. Crimea -yang saat ini sudah dikuasai oleh militer Rusia- akan menggelar referendum Minggu 16 Maret. "Pasukan Rusia tidak ingin menggelar referendum, mereka hanya ingin memalsukan hasilnya," tegas Turchynov. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, dilaporkan menolak tawaran perundingan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelum Moskow menanggapi usulan untuk mengatasi krisis.Krisis di Ukraina berawal dengan unjuk rasa yang akhirnya berhasil menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, yang pro-Rusia, namun warga Krimea yang sebagian besar mendukung Rusia menentang kepemimpinan baru di ibukota Kiev.Sebelumnya Kongres AS melalui pemungutan suara dengan hasil 402-7, menyepakati sebuah resolusi tak mengikat yang mengecam langkah Rusia di Ukraina. Resolusi itu juga mendesak Gedung Putih untuk mengeluarkan Rusia dari keanggotan negara-negara industri maju G-8 dan menerapkan sanksi terhadap negeri Beruang Merah itu.Para anggota kongres juga menyerukan agar para pengamat Organisasi Kerja Sama Keamanan Eropa (OSCE) mengirimkan pengamatnya ke Ukraina dan mendesak NATO agar membekukan kerja sama militer dengan Rusia, termasuk pasokan peralatan militer.Selain itu, resolusi tersebut mendesak pemerintahan Presiden Barack Obama untuk bekerja dengan para sekutu Eropa dan negara-negara lain untuk tidak menunda visa, finansial, perdagangan dan sanksi lainnya untuk para pejabat senior, bank milik pemerintah, dan organisasi komersial Rusia.Kongres juga mengusulkan memberi bantuan ekonomi untuk Pemerintah Ukraina dan mengurangi ketergantungan Ukraina terhadap Rusia, khususnya dalam bidang energi. Terkait kemungkinan AS memberikan bantuan ekonomi terhadap Ukraina, presiden terguling Viktor Yanukovych mengatakan bahwa Washington tak berhak untuk "mendanai para bandit". Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa sanksi untuk Rusia terkait krisis Ukraina bisa menjadi pedang bermata dua terkait kebebasan perdagangan internasional.Sementara itu latihan militer gabungan Amerika Serikat, Bulgaria dan Rumania di Laut Hitam dimulai setelah diundur sehari. USS Truxtun, kapal perusak AS dengan sekitar  300 awak dan bagian dari Armada Keenam AS, yang bermarkas di Italia, bergabung untuk bermanuver dengan kapal frigat angkatan laut Bulgaria Drazki dan tiga kapal Rumania di Laut Hitam.Pelatihan itu dimulai di seluruh perairan Semenanjung Crimea, tempat kelompok militer Rusia telah merebut kekuasaan dari Otoritas Ukraina.  "Kali ini latihan telah dimulai seperti yang direncanakan," kata Letnan Kolonel Dimitar Titev kepada Reuters. Pelatihan itu,  yang tertunda selama satu hari pada  Selasa karena cuaca buruk.Menteri Pertahanan Bulgaria Angel Naydenov mengatakan bahwa Duta Besar Ukraina untuk Sofia, Mikola Baltaji, memberitahunya bahwa latihan angkatan laut bersama BLACKSEAFOR, yang dipimpin oleh Ukraina antara 28 Maret sampai 15 April dibatalkan. Hentikan Siaran dari RusiaSalah satu penyedia layanan televisi kabel terbesar di Ukraina, Rabu (12/3), mengumumkan segera memutus siaran sejumlah stasiun televisi ternama Rusia. Demikian kantor berita Ukraina, UNN mengabarkan. Penyedia jasa siaran televisi Volya, yang menguasai 20 persen pasar televisi kabel di Ukraina, mengatakan pihaknya telah memberitahu para pelanggannya terkait perubahan layanan ini.Pada Selasa (11/3), Televisi Nasional dan Dewan Penyiaran Radio Ukraina memerintahkan para penyedia layanan televisi kabel menghentikan siaran lima stasiun televisi berbahasa Rusia. Dewan beralasan penghentian siaran itu dilakukan untuk memastikan keamanan sosial dan menjaga integritas teritorial Ukraina. Russian TV, yang dikendalikan pemerintah, cenderung menyuarakan kebijakan dan posisi resmi Moskwa dan mendapatkan kritik karena dianggap bias saat menggambarkan krisis Ukraina. (BBC/d)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

New START Berakhir, AS dan Rusia Bebas Tambah Hulu Ledak Nuklir ?

Luar Negeri

Jadi Tentara Bayaran Rusia, Personel Brimob Polda Aceh Dipecat

Luar Negeri

AS Sita Kapal Tanker Minyak Rusia di Atlantik Utara Usai Pengejaran, Picu Ketegangan dengan Moskow

Luar Negeri

Harga Emas Dunia Tembus Rp2,2 Juta per Gram, Dipicu Ketegangan AS-China dan Konflik Rusia-Ukraina

Luar Negeri

Polres Sergai Tangkap Empat Tersangka Penganiayaan, Senjata Api Pabrikan Rusia dan Narkotika Turut Diamankan

Luar Negeri

Bupati Sergai Harap Apdesi Jadi Motor Penggerak Pembangunan Desa