Referendum Digelar, Pendeta Hingga Anak Menteri Diculik di Crimea

- Senin, 17 Maret 2014 12:08 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/03/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sevastopol (SIB)- Sebelum referendum mengenai nasib Crimea digelar, Gereja Katolik Yunani Ukraina menyatakan seorang pendeta telah ditangkap oleh orang bersenjata. Orang bersenjata itu menculik pendeta dari gereja di Sevastopol, Crimea, pada Sabtu (15/3) waktu setempat. Seperti dilansir AFP, Minggu (16/3/2014), otoritas Gereja Katolik tersebut menyatakan, salah seorang pendeta dari angkatan bersenjata Ukraina, Mykola Kvich, diambil dari sebuah paroki (perkumpulan jemaat gereja) dekat pemakaman kota. Namun kepolisian setempat menyatakan Kvich telah ditahan dan kemudian dilepaskan. Saat polisi menelisik, sebanyak 10 rompi anti peluru malah ditemukan di kediaman Kvich.Penculikan itu terjadi setelah kelompok pro Rusia melaporkan satu dari sejumlah pemimpinnya telah diculik. Khalayak Crimea terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang ingin bergabung dengan Rusia dan kelompok yang ingin bergabung dengan Ukraina. Penculikan-penculikan tersebut dilaporkan terjadi terhadap kedua belah kelompok, entah siapa yang menculik. Gereja Katolik Yunani mempunyai pengaruh kuat di wilayah masyarakat berbahasa Ukraina sebelah barat. Gereja aliran ini juga disukai oleh para demonstran Maidan yang pro pemerintahan Barat di Kiev. "Peranan pendeta mungkin menjadi alasan aksi penculikan oleh pasukan bersenjata di Crimea," kata pejabat Departemen Kependetaan Gereja Militer, Pendeta Lyubomyr Yavorskiy.Pada Sabtu pagi, seorang pemimpin pro Rusia di Sevastopol dilaporkan telah diculik. Seperti diketahui, Sevastopol merupakan markas armada kapal Laut Hitam Rusia sejak Abad 18. Meski begitu, kejadian penculikan ini sulit untuk dikonfirmasi karena Menteri Dalam Negeri Ukraina sudah tak punya otoritas di Crimea. Juga, laporan semacam itu terkadang muncul sebagai bagian dari informasi peperangan dari dua kelompok yang berlawanan.Sebelumnya, tepatnya awal pekan ini, tiga aktivis dan wartawan dilaporkan hilang setelah terakhir terlihat di titik pemeriksaan Crimea. Namun akhirnya mereka dibabaskan. Salah seorang dari mereka menceritakan. "Pengalaman ini sangat sulit secara psikologis. Mereka ingin tahu untuk siapa kita bekerja dan siapa yang membayar kita," kata salah seorang dari tiga orang itu, Olena Maksimenko, di Kiev.Maksimenko menceritakan dirinya telah dicekik menggunakan tali dan dipukuli oleh orang dari etnis Cossack. Dia berkata dirinya telah ditangkap di pos pemeriksaan dan dibawa ke markas militer di Sevastopol. "Mereka terus menginterogasi dan memaksa saya berkata bahwa saya adalah semacam mata-mata," katanya.Menteri Pertahanan Ukraina Anatoly Gritsenko bahkan juga mengaku anaknya telah diculik. Ini dikatakan Gritsenko lewat halaman Facebooknya, bahwa anaknya yang bernama Oleksiy telah hilang sejak Kamis (13/3) waktu setempat. Oleksiy merupakan salah satu dari tiga aktivis pro-persatuan yang hilang.Gritsenko berkata anaknya telah menyuplai makanan, obat-obatan, dan generator listrik untuk militer Ukraina di semenanjung Crimea. Militer Ukraina memang dalam keadaan sulit, mereka terkepung oleh pasukan beladiri angkatan bersenjata Rusia.Amnesti Internasional menyatakan sinyal ponsel dua dari tiga aktivis tersebut terlacar berada di dekat Komisariat Militer Simferopol. Pemerhati Hak Asasi Manusia menyesalkan kejadian ini. "Laporan kekerasan dan intimidasi terhadap aktivis dan jurnalis oleh angkatan militer de facto di Crimea (pasukan Rusia) telah sangat meresahkan perkembangan hak asasi manusia yang sudah matang," kata direktur grup pemerhati Hak Asasi Manusia di Eropa dan Asia Tengan, John Dalhuisen.Perdana Menteri Krimea Pro Moscow Sergiy Aksyonov sempat ditanya soal maraknya penculikan akhir-akhir ini. Aksyonov menyatakan setiap penculikan merupakan aksi provokatif. "Saya tak menangkap siapapun kecuali jika orang-orang datang kemari dengan maksud jahat. Maka penegakan hukum akan menghadapi mereka-mereka itu," tegas Aksyonov. Referendum yang akan menentukan nasib Crimea apakah tetap berada di Ukraina atau bergabung ke Rusia, digelar hari Minggu (16/3) waktu setempat. Sebanyak 60 persen penduduk Crimea merupakan etnis Rusia. (AFP/kps)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Jokowi: Referendum di Ukraina Bikin Penyelesaian Perang Makin Rumit

Luar Negeri

Presiden Putin Akui Kemerdekaan Zaporizhzhia-Kherson di Ukraina

Luar Negeri

Benny Wenda Deklarasikan Negara Republik Papua Barat

Luar Negeri

Dewan HAM PBB Disebut Takkan Tangani Petisi Referendum Papua

Luar Negeri

Dewan HAM PBB Disebut Takkan Tangani Petisi Referendum Papua

Luar Negeri

Pasca-Referendum UU, Nazaret Tetap Jaga Tradisi Natal Arab