SIMFEROPOL (SIB)- Pemerintah otonom Crimea menggelar referendum, Minggu (16/3) untuk menentukan pilihan akan berpisah dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia. Pemerintah Ukraina dan sebagian besar masyarakat internasional, kecuali Rusia, telah menyatakan mereka tidak akan mengakui hasil referendum tersebut. "Ini peristiwa bersejarah, setiap orang akan hidup bahagia," kata Sergiy Aksyonov, pemimpin pro-Moskwa di Crimea. "Ini era baru. Kami akan merayakannya," lanjutnya.Sekitar 1,5 juta orang memiliki hak pilih pada referendum di Crimea, yang sebagian besar warganya beretnis Rusia. Tempat-tempat pemungutan suara dibuka pada pukul 06.00 GMT (13.00 WIB) dan ditutup pada 18.00 GMT (Senin, 01.00 WIB). Referendum itu meningkatkan krisis keamanan di wilayah pinggir Eropa tersebut, menjadi seperti saat Perang Dingin. Semenanjung di Laut Hitam itu pun sudah diduduki militer Rusia sejak beberapa pekan lalu. Presiden interim Ukraina Oleksandr Turchynov menyerukan pada penduduk Crimea untuk memboikot pemungutan suara tersebut. Dia juga menuduh referendum tersebut sebagai bagian dari upaya invasi Rusia. "Hasil (referendum) sudah direncanakan sebelumnya oleh Kremlin sebagai pembenaran formal untuk mengirim tentaranya dan memulai perang yang akan menghancurkan kehidupan masyarakat dan prospek ekonomi Crimea," kata Turchynov.Sementara itu AFP melaporkan warga memasukkan suara kota di Simferopol dan Sevatopol, yang dijadikan pangkalan bagi armada Laut Hitam Rusia. "Semuanya akan lebih mudah. Saya hanya untuk Rusia," kata Raisa (77), warga Simferopol kelahiran Rusia. Dia termasuk yang pertama menggunakan hak suara pada referendum tersebut.Di Bakhchysaray, yang menjadi basis komunitas Muslim Tatar Crimea, hanya warga etnis Rusia yang memilih. Komunitas masyarakat ini memang menganjurkan boikot referendum. Pada referendum ini, warga bisa memilih untuk menjadi bagian dari Rusia atau tetap menjadi wilayah Ukraina tetapi dengan otonomi lebih. Hasil referendum bisa diketahui setelah TPS ditutup, yakni sekitar pukul 08.00 malam waktu setempat.Sementara itu, di Sevastopol, bendera-bendera Rusia sudah dibagikan di jalan-jalan. Persiapan untuk menjadi bagian dari Federasi Rusia pun sudah dilakukan mulai awal pekan ini. Mobil-mobil pun sudah mengibarkan bendera Rusia berukuran kecil. Crimea tidak akan secara otomatis bergabung dengan Rusia setelah pemungutan suara tersebut kendati para pejabat mengatakan mereka akan mengajukannya secara formal pekan ini. Pemimpin lokal Sergiy Aksyonov pada Jumat mengatakan prosedur itu bisa menghabiskan waktu "paling lama satu tahun" dan telah berupaya meyakinkan rakyat Crimea bahwa kekacauan finansial dan hukum tidak akan terjadi setelah pemungutan suara. Pemerintah Ukraina mengatakan Crimea tidak akan mampu berdiri sendiri, terutama karena wilayah itu memiliki ketergantungan atas listrik, energi dan persediaan air dari daratan Ukraina. Namun Aksyonov dan tokoh-tokoh lainnya mengatakan mereka bisa dengan mudah mengatasi masalah tersebut dengan bantuan Rusia. Pasukan Rusia Dikabarkan Invasi satu DesaPemerintah Ukraina, Sabtu (15/3), menuding Rusia telah menginvasi sebuah wilayah yang berbatasan dengan Crimea dan bertekad akan menggunakan berbagai cara untuk mengusir penyerang. Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan invasi ini meski dilakukan pasukan dalam jumlah kecil namun menduduki daerah yang terletak di sebelah timur laut pesisir Crimea yang disebut Arabat Spit.Sebanyak 80 personel militer Rusia, didukung empat helikopter dan tiga kendaraan lapis baja, menduduki sebuah desa di wilayah itu. Kemenlu Ukraina lewat pernyataan resminya mendesak Rusia untuk menarik personel militernya dari wilayah Ukraina. "Ukraina memiliki hak untuk menggunakan segala cara demi menghentikan invasi militer Rusia," demikian Kemenlu Ukraina.Pasukan Ukraina mengirimkan pesawat tempur dan penerjun payung untuk melindungi tanah mereka dari tentara Rusia yang mulai merangsek masuk. Diberitakan Reuters, Minggu (16/3), pasukan Ukraina mulai bersiaga dengan posisi bertahan di Arbatskaya Strelka, wilayah yang menghubungkan pulau Crimea dengan tanah daratan Ukraina. Mereka berjajar mengambil posisi sampai sisi timur Crimea yang kini dikuasai oleh tentara Rusia. AS dan Eropa Protes Referendum Crimea, Rusia Melawan dengan Hak Veto?Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 17 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.