TAIPEI (SIB)- Sekitar seribu mahasiswa masih menduduki parlemen Taiwan untuk memprotes cara partai penguasa menangani kesepakatan perdagangan dengan China, yang menjadi isu politik terhangat di Taiwan saat ini. Berbekal kantung tidur dan persediaan makanan, mahasiswa memecahkan pintu kaca untuk memasuki aula utama Gedung Legislatif Yuan, pada Selasa (18/3) malam. Mahasiswa lantas memblokir jalur masuk dengan kursi. Polisi yang dilengkapi tameng anti-huru-hara dikerahkan ke lokasi kejadian, namun gagal membubarkan massa setelah tiga kali mencoba. Ratusan pendemo lainnya berkumpul di luar bangunan di pusat Taipei tersebut.Mahasiswa mengatakan berencana bertahan di gedung parlemen Taiwan sampai hari Jumat. Di hari tersebut, parlemen dijadwalkan berkumpul dalam sesi mingguan guna membahas kesepakatan perdagangan. Jika tidak, mahasiswa akan bertahan sampai Presiden Ma Ying-jeou dan partainya, Kuomintang, setuju meninjau kembali pakta tersebut.Pakta perdagangan tersebut ditandatangani tahun lalu di Shanghai dengan maksud membebaskan arus investasi lintas Selat Taiwan. Kesepakatan tersebut dipandang sebagai prestasi bagi kepemimpinan Ma. Kebijakannya selama ini adalah memupuk kerja sama ekonomi yang lebih erat antara Cina dan Taiwan. Kedua negara sempat bermusuhan dalam perang saudara Cina yang berlangsung selama puluhan tahun. Meski demikian, kesepakatan tersebut dikritik publik. Rakyat khawatir, ekonomi Taiwan yang inovatif dan bergairah akan melemah lantaran banyak perusahaan dan investasi yang lari ke Cina. Penentang pakta juga cemas Taiwan akan terlalu bergantung pada Cina, sehingga menggembosi sistem demokrasi di Taiwan.Sejumlah negosiasi antara Kuomintang dan Partai Progresif Demokrasi (DPP) soal peninjauan ulang pakta dalam enam bulan terakhir berakhir buntu. Sebagai kompromi, kedua partai sepakat meninjau persetujuan tersebut per baris ketimbang secara menyeluruh. Meski demikian, Kuomintang meloloskan pakta tersebut lewat peninjauan ulang oleh sebuah komisi legislatif tanpa melalui debat satu pun, Senin kemarin. “Pakta perdagangan ini akan berdampak besar dan permanen bagi industri, keamanan nasional, dan mata pencaharian warga Taiwan. Namun publik tidak diizinkan berpartisipasi penuh dalam proses peninjauan ulang. Jika Kuomintang adalah partai yang taat hukum, kenapa mereka mengabaikan janjinya untuk meninjau pakta per baris?†kata Chen Wei-ting, salah satu pemimpin mahasiswa.Juru bicara Kuomintang, Lin Hung-chih, melontarkan pernyataan tegas. Ia menganggap aksi mahasiswa tersebut illegal. Katanya, “sama sekali tidak ada ruang negosiasi†terkait konten pakta perdagangan dengan Cina. Ia juga menandaskan tidak akan ada kompromi saat pakta itu akan dibicarakan dalam sesi parlemen Jumat nanti. (WSJ/w)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.