Rusia Bisa Duduki Ukraina dalam 5 Hari

* NATO Bekukan Kerja Sama dengan Rusia, * Rusia Berang Ukraina Bergabung ke NATO
- Kamis, 03 April 2014 12:22 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/04/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Brussels (SIB)- Salah seorang perwira tinggi NATO, Rabu (2/4), mengatakan, Rusia sudah menempatkan seluruh kekuatannya di perbatasan Ukraina jika negeri itu benar-benar akan menyerbu Ukraina.  Panglima Komando Sekutu NATO, Marsekal Philip Breedlove dari AS, mengatakan, jika serangan ke Ukraina benar-benar terjadi maka Rusia bisa mencapai tujuannya hanya dalam tiga hingga lima hari.Breedlove menilai, kondisi di perbatasan Ukraina-Rusia sangat mengkhawatirkan. NATO melihat pergerakan pasukan kecil Rusia selama beberapa hari terakhir, tetapi tidak ada indikasi pasukan Rusia sedang mundur kembali ke barak mereka.Para menteri luar negeri NATO meminta Breedlove untuk merencanakan sebuah paket untuk memastikan para sekutu NATO di Eropa timur akan mendapatkan batuan darat, udara, dan laut jika sesuatu terjadi. Situasi di perbatasan Ukraina-Rusia memanas setelah Rusia menumpuk puluhan ribu pasukannya di sepanjang perbatasan kedua negara. Militer AS menduga terdapat sebanyak 40.000 personel militer Rusia di perbatasan. Namun, pihak Ukraina memperkirakan konsentrasi pasukan Rusia bisa mencapai 100.000 personel.Di tengah ketegangan itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menghubungi Kanselir Jerman Angela Merkel dan mengatakan bahwa Rusia sudah menarik satu batalyon tempurnya dari perbatasan Ukraina. Namun, Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan, pihaknya hingga saat ini belum memperoleh informasi apa pun terkait penarikan mundur pasukan Rusia itu.NATO Bekukan Kerja Sama dengan RusiaPihak NATO telah membekukan semua kerja sama dengan Rusia dikarenakan krisis Crimea. NATO pun mempertanyakan klaim pemerintah Rusia soal penarikan pasukannya dari dekat perbatasan Ukraina.Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan, aliansi tersebut menghentikan sementara semua kerja sama praktis dengan Rusia, baik militer maupun sipil. Namun ditambahkannya, saluran komunikasi diplomatik dengan Rusia tetap dibuka.Rasmussen juga mengatakan, dirinya belum bisa mengkonfirmasi bahwa Rusia telah menarik pasukannya menjauh dari perbatasan Ukraina. "Itu bukan seperti yang kami lihat," tuturnya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (2/4).Sebelumnya, Ukraina dan Amerika Serikat menuding Rusia telah menempatkan ribuan pasukannya dekat perbatasan Ukraina. Bahkan Moskow dikhawatirkan berencana menduduki wilayah Ukraina bagian tenggara yang banyak dihuni warga etnis Rusia.Krisis Crimea memanas setelah hasil referendum menunjukkan bahwa mayoritas warga Crimea, Ukraina memilih untuk keluar dari kedaulatan Ukraina dan bergabung ke pemerintahan Rusia. Sejumlah pemimpin dunia termasuk Sekjen PBB Ban Ki-moon mengecam pencaplokan wilayah Crimea oleh Rusia ini.Rusia Berang Ukraina Bergabung ke NATORusia, Selasa (1/4), memperingatkan Ukraina, yang bergabung dengan aliansi pertahanan NATO. Menurut Rusia, langkah Ukraina itu hanya menambah ketegangan dengan Rusia dan memicu masalah antara Rusia dan NATO. "(Upaya itu) menyebabkan pembekuan kontak politik Rusia-Ukraina, memusingkan pihak NATO dan Rusia, dan ... untuk memecah masyarakat Ukraina," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia di saat para menteri luar negeri NATO berkumpul di Brussels, Belgia.Pernyataan itu memperingatkan pula bahwa masa depan hubungan ekonomi antara Moskwa dan Kiev akan sangat tergantung pada tindakan yang diambil Ukraina terkait kebijakan luar negerinya. Moskwa melihat Ukraina, salah satu wilayah bekas Uni Soviet, sebagai bagian dari lingkungan tradisional pengaruhnya. Karenanya, Rusia ingin klausul netralitas masuk dalam konstitusi Ukraina, mencegah negara itu bergabung dengan NATO. Ukraina mengejar keanggotaan NATO selama pemerintahan Presiden Viktor Yushchenko, pada kurun 2005 hingga 2010. Selama itu pula, Kremlin telah melakukan beragam upaya untuk menjaga Ukraina menjadi wilayah penyangga di antara Rusia dan NATO. (Rtr/AFP/dtc/kps/w)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

New START Berakhir, AS dan Rusia Bebas Tambah Hulu Ledak Nuklir ?

Luar Negeri

Jadi Tentara Bayaran Rusia, Personel Brimob Polda Aceh Dipecat

Luar Negeri

AS Sita Kapal Tanker Minyak Rusia di Atlantik Utara Usai Pengejaran, Picu Ketegangan dengan Moskow

Luar Negeri

Harga Emas Dunia Tembus Rp2,2 Juta per Gram, Dipicu Ketegangan AS-China dan Konflik Rusia-Ukraina

Luar Negeri

Polres Sergai Tangkap Empat Tersangka Penganiayaan, Senjata Api Pabrikan Rusia dan Narkotika Turut Diamankan

Luar Negeri

Bupati Sergai Harap Apdesi Jadi Motor Penggerak Pembangunan Desa