Kotapinang (SIB) -Di usianya yang ke-10 tahun, pertumbuhan otonomi daerah pemekaran ini belum mampu membuat Kotapinang sebagai Ibukota Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) lebih baik, malah sebaliknya semakin buruk dan tertinggal dari pusat-pusat pemerintahan kabupaten pemekaran lainnya yang berusia hampir sama.
"Dengan motto Kabupaten Labuhanbatu Selatan 'Santun Berkata Bijak Berkarya' hanya seremonial tidak ada manfaatnya. Lihat saja Kotapinang sebagai Ibukota Kabupaten Labusel masih carut-marut, tidak ada yang bisa dibanggakan dari hadirnya ibukota hasil pemekaran ini, karena tak punya pengelolaan dan perencanaan yang baik. Semua itu karena pemimpinnya tak memiliki kapasitas menjadikan Kotapinang lebih baik dan ini patut dipertanyakan," tegas Pardamean Nainggolan (22), seorang mahasiswa fakultas tehnik arsitektur landscape salah satu universitas di Medan dan Ir Fakta Tarigan pengamat perkotaan kepada SIB, Senin (23/7) di Kotapinang.
Menurutnya, pembangunan yang dilakukan bukan malah membuat Kotapinang semakin baik dan ramah bagi warganya, melainkan sebaliknya. Terkesan master plant ibukota daerah penghasil kelapa sawit dan karet ini tidak jelas dan nyaris di semua sektor mengalami hal serupa.
Pardamean Nainggolan dan Ir Fakta Tarigan dengan gamblang sama-sama memaparkan pendapatnya terhadap berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah daerah mulai dari penyediaan akses jalan, drainase, tranportasi umum, pengelolaan pertanian, sarana prasarana pendidikan, pengelolaan air bersih, fasilitas olahraga , taman, lalu-lintas dan lainnya tidak memiliki perencanaan yang matang serta berkesinambungan. Misalnya, di sektor lalu-lintas, diakui petumbuhan kendaraan bermotor terus bertambah kerap menimbulkan kemacetan karena tidak ada pengaturan yang baik dari dinas perhubungan.
Dari sektor olahraga juga tidak ada yang dapat dibanggakan. "Apa ada di Kotapinang ini fasilitas umum seperti lapangan sepak bola, lapangan bola basket, lapangan voli dan lainnya yang dibangun oleh Pemkab?," ujarnya bernada tanya.
Dari sektor akses jalan, tambahnya, sama-sama diketahui, jangankan di kawasan pinggiran kota, di tengah-tengah kota juga banyak yang rusak. Pembangunan jalan lingkar luar Kotapinang yang sudah bertahun-tahun lamanya dibangun membuka akses jalan sepanjang puluhan meter, penimbunan/pengerasan badan jalan dan pembangunan jembatan beton yang diperkirakan sudah menelan dana ratusan miliar anggaran APBD Kabupaten Labusel hingga kini tidak rampung terkesan mubajir tidak dapat digunakan masyarakat karena teknis pekerjaan diduga tidak didasari perencanaan kerja yang baik.
"Kalau mau melihat pembangunan fasilitas jembatan beton dan jalan lingkar luar Kotapinang yang dikerjakan sejalan tahun 2014 lalu ini sebenarnya sudah dapat dinikmati penggunaannya oleh masyarakat. Begitu juga pembangunan Pasar Inpres yang terletak di sisi jalur jalan lingkar luar mengalami nasib serupa alias mangkrak tidak berkelanjutan," kabarnya.
Demikian pula dengan sektor-sektor lainnya, kata Ir Fakta Tarigan, pembangunan kawasan pekantoran bupati dan OPD di desa Sosopan Kotapinang bukan membuat lebih baik tapi bertolak belakang dengan yang diharapkan masyarakat. Untuk sektor pendidikan juga tak bisa dibanggakan, sebab sarana prasarana sekolah yang ada juga minim. Di sektor pertanian juga terkesan dikerjakan hanya berorientasi pemenuhan target jangka pendek, bukan untuk jangka panjang," katanya.
Pertumbuhan pembangunan khusunya di Kotapinang, sambung Ir Fakta Tarigan ini, terkesan tanpa pengelolaan tata ruang yang baik. Bandingkan dengan pertumbuhan ibukota pemerintah daerah kabupaten baru lainnya, Kotapinang Ibukota Kabupaten Labusel ini jelas jauh tertinggal.
Seharusnya tambah Ir Fakta Tarigan, pemimpin pemerintahan kabupaten ini bisa mengurai satu-persatu permasalahan yang ada di Kotapinang. Terkadang peran serta masyarakat ingin memberi masukan namun selalu dianggap sebagai angin lalu.
Demikian pula bila ada usulan dari sejumlah praktisi, akademisi dan para intelektual terandal yang ada di Kotapinang dengan sukarela ingin berpartisipasi dengan memberikan hasil buah pemikirannya agar Kotapinang sebagai Ibukota Kabupaten Labusel menjadi lebih baik dengan mencanangkan pembangunan kota dalam jangka panjang juga diabaikan.
"Memang pembangunan tidak bisa dikerjakan secara cepat, tapi jangan gengsi menerima masukan dari orang-orang bijak yang mempunyai kemampuan mengurai permasalahan untuk berbuat kearah yang lebih baik. Sayangnya hasil buah pemikiran bijak selalu tidak mendapat dukungan pemimpinnya," keluh Fakta Tarigan
Jadi, sambungnya, jangan hanya euforia dengan motto Santun Berkata Bijak Berkarya, tetapi warganya hidup didalam kondisi tidak nyaman. "Kalau warga Kotapinang ingin tenteram dan nyaman, Kotapinang sebagai ibu kota kabupaten harus lebih tertata dan memiliki program pembangunan tata ruang jangka panjang," pungkasnya. (F07/h)