Balige (SIB) -Group Palambok Pusu- pusu (GP3), menggelar seminar sehari terkait Bahasa Batak kepada para Kepala Sekolah Tingkat SD dan SLTP di Lingkungan Pemkab Tobasa, di Gedung Serbaguna SMK Negeri I Soposurung Balige, Toba Samosir, Sabtu (10/11).
Group Palambok Pusu-pusu ini ,merupakan group orang -orang Batak di media sosial Facebook yang anggotanya sudah mencapai kurang lebih 9. 772 orang.
Seminar , dibuka Bupati Toba Samosir melalui Asisten Administrasi Umum Ir Parulian Siregar. Sementara tampil sebagai pembicara Manguji Nababan, Direktur Batakologi Universitas HKBP Nommesen dengan materi "Ancaman Kepunahan Bahasa Batak di Tengah Perkembangan Jaman dan Himpitan Bahasa Nasional, Regional dan Global di Masa Mendatang".
Ada juga Nestor Riko Tambun,seorang penulis dalam topik "Literasi sebagai salah satu alat mempertahankan eksistensi bahasa Batak di tengah kemajuan alat komunikasi dan pilihan media bacaan saat ini. Ada Prof Albiner Siagian guru Besar USU yang membawakan " Keluarga sebagai basis utama penggunaan dan pelestarian bahasa Batak".
Pdt Demak Simanjuntak, Direktur Sekolah Guru Huria (SGH) Sipoholon dengan judul "Gereja Batak atau gereja yang tumbuh dan berkembang di tanah Batak sebagai lembaga agama yang menggunakan bahasa Batak dalam komunikasi pelayanannya,merupakan salah satu benteng terakhir dalam pelestarian bahasa Batak. Dan terakhir Kepala Dinas Pendidikan Tobasa diwakili Sekdis Pendidikan Tobasa Parlindungan Naipospos " Sekolah sebagai formal pendidikan diharapkan mengambil peran dalam pelestarian bahasa Batak yang dihubungkan dengan kurikulum kearifan lokal."
Pada saat pembukaan, Ir Parulian Siregar, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan seminar bahasa Batak yang digagasi dan dilaksanakan oleh GP3. Karena memang, diakuinya, akhir-akhir ini, di daerah yang didiami oleh orang -orang Batak,sudah sering menggunakan bahasa Indonesia dan tidak mengajarkan bahasa Batak, sehingga ada kemungkinan, bahasa Batak ini akan punah bila hal ini dibiarkan terus menerus.
Keresahan yang sama terkait akan punahnya bahasa Batak, juga disampaikan oleh Ketua GP3 M Tansiswo Siagian yang juga sebagai pemrakarsa pelaksanaan seminar dimaksud. Atas dasar ini juga, GP3 yang aktif di media sosial Facebook, melaksanakan seminar ini.
"Molo So hita,ise be. molo dang saonari andingan be. (Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Jikalau tidak sekarang, kapan lagi red), " kata Tansiswo Siagian penerima penghargaan anugerah sastra 2017 dari Yayasan Azip Rosidi dalam sambutan singkatnya.
Sebelumnya St Anna Elfrida Siahaan SH,selaku ketua panitia pelaksana seminar, menyampaikan,seminar ini rangkaian kegiatan dimana sebelumnya sudah dilaksanakan lomba menulis cerita berbahasa Batak dengan aturan yang sudah ditetapkan para admin Group Palambok Pusu-pusu.
Pelaksanaan seminar sehari ini,lanjut alumni Unita ini, karena adanya kegelisahaan berbagai pihak atas eksistensi bahasa daerah masing-masing . GP3 sebagai Group Facebook yang peduli dengan kelestarian bahasa Batak, membuat seminar ini.
Seminar bahasa Batak ini, tentu tidak sekedar mereduksi kegelisahaan orang batak terhadap berkurangnya pemakai/penutur bahasa Batak. Lebih dari itu, bermaksud untuk memberikan penyadaraan tentang peran keluarga sebagai fundasi awal persemaiaan bahasa Batak kepada generasi penerus. Termasuk lembaga gereja dan juga institusi pendidikan. (H01/c)