Sei Kepayang (SIB)- Sebanyak enam ruang kelas SD Negeri 010014 Desa Sei Lendir Kecamatan Sei Kepayang Barat Asahan, Selasa (21/1) rusak dari enam ruang kelas sekolah tertua di kecamatan itu di antaranya mengalami kerusakan pada bagian struktur bangunan. Pantauan SIB, asbes selasar depan dan belakang telah berlobang. Kaca jendela ruang kelas bolong.Kepala SDN 010014, Fauziah, kepada SIB via telepon seluler, Selasa (21/1), mengatakan, sekolah yang dipimpinnya itu di tahun 2011 lalu telah menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk merenovasi tiga ruang kelas yang rusak.“Tahun 2011 kita perbaiki tiga lokal, tapi kegiatan dikerjakan rekanan. Saya sudah memperbaiki bagian yang rusak menggunakan uang pribadi. Kalau tak percaya tanya sama guru-guru di sekolah,†ujar Fauziah meyakinkan ucapannya kepada SIB.Kondisi fisik ketiga ruang kelas yang telah diperbaiki tahun 2011 itu telah rusak seperti bagian atas depan selasar, asbes dan plafon bangunan copot. Termasuk asbes selasar belakang juga bolong. Bahkan salah satu jendela ruang kelas bolong. Parahnya lagi, kebersihan sekolah seakan terabaikan. Nuansa kumuh ruang belajar siswa menunjukkan minimnya perhatian akan pentingnya kebersihan.Bangku dan meja belajar siswa kurang terawat. Lantai ruang kelas jorok, sampah yang berserakan di lantai terkesan dibiarkan dan tong sampah pun ditemukan di dalam ruang kelas tempat siswa menimba ilmu.Sementara tiga ruang kelas yang direnovasi menggunakan dana DAK TA 2012 juga mengalami kerusakan. Kaca jendela ruangan bolong dan ditutupi selembar triplek. Plafon asbes bangunan renggang. Asbes selasar depan mulai menunjukkan kerusakan, padahal baru setahun usia perbaikannya. “Yang tiga lokal saya lihat tidak ada yang rusak. Kalau tiga lokal lagi yang diperbaiki rekanan tahun 2011 memang ada di selasar depannya,†ujar Fauziah membenarkan pelaksanaan DAK 2012 secara swakelola sesuai Permendikbud Nomor 56 tahun 2011 tentang Juknis DAK Bidang Pendidikan Tahun 2012 untuk SD/SDLB.Sistem penataan bangunan sekolah terkesan tidak didasari perhitungan yang matang. Pembangunan ruang perpustakaan yang bersumber dari dana DAK tahun 2013 senilai Rp110 juta lebih yang kini masih tahap pengerjaan berada di ruang terbuka atau halaman depan sekolah. Selama ini halaman tersebut dijadikan siswa untuk tempat bermain saat istirahat. “Ini menunjukkan minimnya perhatian terhadap letak dan penataan bangunan. Kalau memang tidak ada lahan yang memadai, kan sudah diatur dalam Permendikbud Nomor 12 tahun 2013 tentang Juknis DAK 2013 bahwa diperbolehkan dibangun dua lantai apabila lahan yang ada sempit,†kata tokoh masyarakat Sei Kepayang, Arsyad Nasution menyayangkan dan prihatin dengan siswa sekolah itu sehingga tidak akan dapat memanfaatkan halaman yang selama ini berfungsi untuk tempat bermain.Fauziah berdalih penetapan lokasi pembangunan ruang perpustakaan karena tidak adanya lahan yang ada di sekolah itu. “Tak ada lahan lagi makanya dibangun di depan sekolah,†ujarnya. (D22/x)