Tanggapi FDT 2020 Ditiadakan

Pegiat Budaya : Kembalikan Marwah Pesta Danau Toba

Redaksi - Kamis, 16 Januari 2020 15:57 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/01/3064_Pegiat-Budaya---Kembalikan-Marwah-Pesta-Danau-Toba.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Dok
Dian Damanik

Simalungun (SIB)

Menanggapi kebijakan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, untuk membatalkan Festival Danau Toba (FDT) tahun 2020, Pegiat Budaya Dian Manik menegaskan, agar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mengembalikan marwah Pesta Danau Toba (PDT) seperti semula, Rabu(15/1).

"Kita ingin Festival Danau Toba dikembalikan menjadi Pesta Danau Toba yang sudah ada sejak pertama kali digelar," katanya.

Menurutnya, sejak pertama kemunculan Pesta Danau Toba, tujuannya ini bukan untuk mendatangkan turis semata, sejak tahun 80-an Pesta Danau Toba adalah sebagai Syukuran masyarakat Batak terhadap Danau Toba. Sejak awal ini hanya bersifat lokal, tapi karena diagendakan menjadi setiap tahun, maka Pesta Danau Toba berubah menjadi Festival (Even) tahun 2013 kalau tidak salah.

Kemudian sejak saat itu, Gaung Festival Danau Toba semakin merosot baik lokal maupun interlokal. Sepinya pengunjung itu bukan karena Festival Danau Tobanya, tapi kita harus tau siapa even organizernya, bagaimana proses pendanaannya dan bagaimana proses promosinya.

Banyak hal yang mempengaruhi ketika even itu tidak dihadiri ataupun tidak ramai pengunjung. Bisa karena promosi yang tidak tepat, bisa karena pemilihan waktu yang tidak tepat, bisa saja yang menjalankan even itu bukan orang yang tepat. Artinya FDT itu perlu solusi strategi yang tepat agar gaungnya terdenggar hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk masalah waktu yang tepat, kita harus tahu dulu, tujuan acara itu sasarannya wisatawan mancanegara atau wisatawan dalam negara. Jadi tinggal menyesuaikan kapan visitor wisatawan paling tinggi ke Asia Tenggara disitulah waktu yang tepat.

Dian juga menambahkan, pelaku itu kalau bisa warga lokal, acara demi acara yang bertajuk kebudayaan haruslah masyarakat yang ada di Kawasan Danau Toba (KDT). Kemudian tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan orang di luar KDT jika diperlukan.

Tetapi bagi pengelola even diharuskan orang yang berpengalaman menangani even skala internasional. Sehingga FDT bisa maksimal mendatangkan wisatawan mancanegara dan juga pengelola even harus membuka diri terhadap pelaku-pelaku wisata, seperti travel-travel, tourguide juga rekan-rekan media harus dilibatkan. Sehingga acara itu dapat berjalan dengan maksimal dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat lokal juga mendatangkan pendapatan asli daerah yang mumpuni.

Kemudian sasaran utama yang paling memungkinkan adalah masyarakat lokal di luar KDT, lalu wisatawan mancanegara dan terakhir masyarakat lokal di sekitar KDT dengan menampilkan pertunjukan berbasis budaya, bisa juga seperti konser musik, tari tradisional, bazar makanan lokal, jika memungkinkan dihindari proses kompetisi, tapi pertunjukan budaya berbasis kolaborasi. Sehingga hasil dari promosi even itu bisa berdampak secara ekonomi dan promosi berkelanjutan.

Lebih lanjut dikatakan pegiat budaya ini, pemerintah juga harus mensosialisasikan terlebih dahulu untuk membuat suatu even. Sebab, alam budaya Batak itu ada Tonggo Raja, yang dalam artinya musyawarah untuk membicarakan sesuatu yang ingin dilakukan.

Seharusnya ada ruang diskusi dan dialog terhadap masyarakat lokal baik itu raja-raja bius, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah untuk bisa saling bergandengan tangan mempromosikan Danau Toba. Sehingga marwah Pesta Danau Toba kembali terlahir seperti semula, harapnya.(S13/d)

Berita Terkait

Martabe

Polres Simalungun Pantau Harga Sembako Jelang Ramadan, Beras Premium Rp14.200-Rp16.000/Kg

Martabe

Imlek 2577, Lampion Merah Semarakkan Wajah Kota Pematangsiantar

Martabe

Indosat Luncurkan SATSPAM+ Ramadan, Klaim Lindungi WhatsApp Call dari Penipuan

Martabe

Bobby Afif Nasution Gaungkan Gerakan ASRI di Pantai Sorake, Serukan Wisata Bersih

Martabe

DPRD Kota Medan Soroti Bangunan Tanpa PBG, Antonius Tumanggor Desak Penindakan

Martabe

Polres Tanjungbalai Ikuti Peresmian 1.179 SPPG Polri oleh Presiden