Tebingtinggi (SIB)
Sepanjang 2 Km lebih, kondisi Jalan Letda Sujono, Kelurahan Pinang Mancung, Kecamatan Bajenis, Tebingtinggi semakin rusak parah dan memprihatinkan. Hal itu terjadi diduga karena kerap dilalui truk besar pengangkut material tanah untuk kepentingan proyek pembangunan jalan Tol Tebingtinggi-Pematangsiantar, tepatnya di kawasan Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai).
"Sejak beberapa bulan lalu, jalan ini semakin rusak dan dihiasi banyak lubang menganga akibat setiap harinya hingga pukul 22.00 WIB senantiasa dilalui truk pengangkut meterial tanah timbun guna proyek jalan tol Tebingtinggi- Pematangsiantar," ujar warga sekitar bernama Rudi Iskandar (53), Hendra (28) dan R Meliala (35) kepada SIB, Kamis (20/2).
Lebih lanjut Rudi mengatakan, selain menimbulkan kerusakan jalan yang semakin parah, truk-truk itu acap kali menimbulkan debu-debu yang dapat mengganggu kesehatan warga sekitar.
"Setiap hari debu-debu beterbangan hingga menempel ke dinding rumah dan kios milik warga. Jika terus-terusan seperti ini, bukan tidak mungkin kondisi kesehatan kami yang tinggal di pinggir jalan kelas provinsi ini jadi terganggu," ucapnya.
Dia menyebutkan, meski pihak pengembang proyek jalan tol itu melakukan penyiraman ke badan jalan, namun pelaksanaannya dinilai kurang dan harus lebih ditingkatkan.
"Dalam sehari, pihak pengembang hanya tiga kali menyirami badan jalan dengan air. Seharusnya, penyiraman dilakukan lebih dari itu, mengingat truk-truk yang ada setiap harinya hampir tengah malam baru berhenti beroperasi (melintas).
Kemudian, kita juga tidak pernah menolak adanya proyek pembangunan di wilayah ini. Tapi, pihak kontraktor/rekanan diminta bijak dalam memerhatikan dan menyikapi keluhan dari masyarakat," ungkapnya.
Dari situasi yang ada, Rudi berharap kepada pihak pengembang proyek jalan Tol tersebut, agar sesegera mungkin memperbaiki/menambal titik-titik jalan yang rusak dan berlubang.
"Kemudian, lebih meningkatkan intensitas penyiraman air ke badan Jalan Letda Sujono. Sehingga, selama proyek berlangsung, warga sekitar tidak setiap hari mengonsumsi debu-debu yang dapat mengganggu saluran pernapasan," harap mereka. (T01/c)