Tapanuli Utara (SIB)- Tingginya perbandingan angka produksi padi dengan angka konsumsi di Kabupaten Tapanuli Utara menjadikan daerah tersebut surplus beras, bahkan menjadikan Taput penyuplai beras ke daerah lain."Produksi rata-rata mencapai 97.704 ton per tahun dengan konsumsi 43.838 ton per tahun. Petani di Taput masih mampu menyuplai kebutuhan beras ke daerah tetangga. Daerah penghasil padi di sini ada di Kecamatan Pahae Jae, Pahae Julu, Simangumban dan Muara," jelas Kepala Kantor Ketahanan Pangan Taput Junter Marbun kepada SIB, Jumat (24/1).Sistem tanam yang ada kata dia, terbagi dua. Sebagian masih persawahan tadah hujan namun ada juga dengan irigasi setengah teknis. Namun akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi, terjadi alih fungsi lahan tanaman padi itu."Ada yang mulai beralih menjadi petani tanaman jenis lain dengan membuka kebun. Tidak sedikit lahan persawahan beralih fungsi menjadi areal perumahan, seperti di Tarutung," ujarnya.Kantor Ketahanan Pangan Taput, lanjutnya, tetap berupaya menerapkan Perpres 29 Tahun 2010 tentang kebijakan penganekaragaman konsumsi pangan. Langkah yang dilakukan melibatkan PKK dalam mengolah makanan non beras."Kami pernah melakukan kegiatan pesta ‘manggadong’ di Kecamatan Pangaribuan. Tujuannya memasyarakatkan jenis pangan lain selain beras untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. ‘Manggadong’ bukan berarti tidak memakan vitamin, lemak atau nutrisi lain ke tubuh. Hanya peralihan kebiasaan memakan sumber karbohidrat saja. Selain beras, karbohidrat ada pada ubi, jagung dan sagu," papar Junter.(C8/ r)