Massa Datangi SOL

Desak SOL Perhatikan Lingkungan dan Libatkan Warga Luat Pahae

- Kamis, 30 Januari 2014 13:47 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/01/hariansib_Desak-SOL-Perhatikan-Lingkungan-dan-Libatkan-Warga-Luat-Pahae.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Mahadi Sitanggang
BAKAR SEMANGAT : Komponis lagu-lagu Batak, Dakka Hutagalung (pegang mic), memimpin lagu Indonesia Raya, membakar semangat pengunjuk rasa menolak Sarulla Operation Limited (SOL), Rabu (29/1) di Desa Pangaloan Pahae Jae.
Tapanuli Utara (SIB)- Sedikitnya seratus warga kembali datangi kantor SOL di Desa Pangaloan Pahae Jae, Rabu (29/1), menolak  beroperasinya Sarulla Operation Limited (SOL) sebagai pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Pengunjuk rasa yang tergabung dalam aliansi masyarakat luat Pahae itu, menyampaikan 7 tuntutan, yang intinya mendesak SOL memperhatikan lingkungan dan melibatkan warga Luat Pahae.SOL ditengarai telah melahirkan kekhawatiran di tengah masyarakat Luat Pahae. Namun menurut mereka, SOL secara sadar tidak mempedulikan hal itu bahkan mengabaikan hak-hak warga.“Dalam menyusun analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), SOL tidak memuat fakta sebenarnya seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya kepada warga. Sikap ketidak pedulian SOL juga terlihat dengan tidak hadirnya satupun pimpinan SOL menerima kami di sini. Padahal,   kami sudah sampaikan rencana aksi untuk bertemu pimpinan SOL,” kata koordinator aksi, Pasonly Siburian.Gelombang massa menolak  kepada SOL, kata dia, akan  kembali jika persoalan Amdal dan mempekerjaan warga sekitar tidak terjawab. Mereka bahkan mengancan akan melakukan aksi sampai ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di  Jakarta. Aksi dan tuntutan mereka juga akan disampaikan ke Asian Development Bank (ADB) agar rencana pencairan dana SOL dihentikan sementara.Pimpinan Humas SOL, Industan Sitompul menemui Aliansi Masyarakat Luat Pahea dan berjanji akan menyampaikan tuntutan  itu kepada pimpinan SOL.Kepada wartawan dia mengatakan, dengan bentuk konsorsium seperti SOL tidak memungkinkan satu orang untuk membuat kebijakan atau keputusan sesuai tuntutan itu. Setiap keputusan harus menghadirkan Ormat dari Kanada, Itochu/Kyusu dari Jepang dan Medco Engineering dari Indonesia yang tergabung dalam konsorsium itu.“Beberapa tuntutan mereka juga tidak ada di SOL. Seperti adanya Komite Panas Bumi yang meneken kerjasama dengan kami. Dan kami juga akan mempekerjakan warga sekitar. Kalau sekarang, pekerjaan di SOL masih sebatas 5 %, jadi belum banyak yang bisa kami lakukan,” ujar Industan.Tujuh tuntuan Aliansi Masyarakat Luat Pahea itu antara lain, meminta kepada ADB untuk meninjau ulang pemberian kredit kepada SOL karena prosesnya sudah mengabaikan hak warga dan merusak lingkungan Luat Pahae. Menghentikan seluruh kegiatan SOL sampai ada kejelasan tentang Amdal. Menolak dengan tegas segala upaya yang ingin membentuk Komite Panas Bumi tanpa melibatkan putra Pahae.Menuntut keseriusan SOL memberikan beasiswa/kursus untuk persiapan jabatan strategis di kemudian hari. Menuntut SOL melatih masyarakat Pahae beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Menuntut dan mempidanakan oknum yang membocorkan data terkait ganti rugi lahan dan menolak dengan tegas segala upaya adu domba putra Pahae.Berbeda dengan aksi unjuk rasa Desember tahun lalu, aksi Aliansi Masyarakat Luat Pahea kali ini mendapat hadangan dari massa yang juga mengaku penduduk sekitar. Sewaktu pengunjuk rasa mendekati kantor SOL, satu truk berwarna kuning sengaja di parkirkan menutup arah pintu masuk.Di depan pintu masuk, belasan security terlihat berjaga-jaga. Saat berorasi, seorang pria berbadan gemuk mengenakan kaus oblong hitam bertopi putih, dari atas truk kuning itu, mencoba memancing emosi pengunjuk rasa. Beruntung, Wakapolres Taput Kompol Paian Sihotang bersama anggotanya berhasil menenangkan situasi.“SOL tidak ada dengan sengaja atau membayar massa itu. Kedatangan mereka hanya spontanitas saja,” dalih Industan, saat ditanya seputar massa yang diduga sengaja dibayar oleh SOL itu.(C8/W)


Tag:

Berita Terkait

Martabe

Adira Expo Berkah Ramadan Hadir di Medan, Permudah Akses Pembiayaan Selama Bulan Suci

Martabe

Kukuhkan LMB, Bupati Batubara Tekankan Pentingnya Kekompakan dan Solidaritas

Martabe

Pertamina Pastikan Pasokan BBM Tapanuli Berangsur Pulih

Martabe

PSDS Deliserdang Degradasi ke Liga 4 usai Kalah dari Persitara

Martabe

Penganiayaan di Lapo Tuak Diselesaikan dengan Pendekatan Restorative Justice

Martabe

Solidaritas, Biro SIB Labuhanbatu Raya Jenguk Dua Wartawan yang Sakit