Simalungun (harianSIB.com)
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Simalungun, Leo Lopulisa Haloho mengindikasikan kelangkaan minyak goreng (migor) dalam beberapa minggu terakhir diduga akibat adanya "permainan".
"Sudah tiga minggu, minyak goreng langka di Simalungun. Kita akan panggil distributornya," kata Leo, Rabu (9/2/2022).
Ia pun miris menyikapi kelangkaan migor. Padahal, katanya, Kabupaten Simalungun merupakan sentra penghasil buah kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng.
"Simalungun memiliki 9 sampai 10 PKS (pabrik kelapa sawit). Tapi aneh, minyak goreng sulit didapat," ujar Leo, alumni magister Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Universitas Sumatera Utara.
Ia bahkan sudah melakukan survei untuk memantau ketersediaan migor dan harga eceran tertinggi (HET). Hasil pemantauannya ditemukan harga migor mencapai Rp 20 ribu perliter.
"Harga standar Rp 14 ribu per liter. Tapi, di lapangan ada kita temukan Rp 20 ribu perliter. Indikasi, ada permainan dalam jual beli. Kelangkaan mungkin juga di supplier migor dan otoritas perdagangannya," urai Leo.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan bakal berkoordinasi dengan sejumlah instansi dan stakeholder untuk melacak hambatan dalam implementasi stok minyak goreng dan kebijakan harga.
"Hari Kamis 10 Februari 2022, akan ada rapat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, dengan menghadirkan Kepala Balai Industri Medan, perusahaan-perusahaan di KEK Sei Mangkei, distributor dan sejumlah pihak terkait dalam menyikapi persoalan kelangkaan minyak goreng," pungkasnya. (*)