Unjuk Rasa Mahasiswa Cipayung Plus Tolak Kenaikan Harga BBM di Pematangsiantar Berakhir Ricuh

Redaksi - Senin, 05 September 2022 16:48 WIB
(Foto: harianSIB.com/Andomaraja Sitio)
DATANGI: Mahasiswa yang bergabung dalam kelompok Cipayung Plus mendatangi Mako Polres Pematangsiantar di Jalan Sudirman, Senin (5/9/2022) siang. 

Pematangsiantar (harianSIB.com)

Unjuk rasa mahasiswa yang bergabung dalam kelompok Cipayung Plus menolak kenaikan harga bahan bakar (BBM) di luar Gedung DPRD Pematangsiantar, Senin (5/9/2022) siang, berakhir ricuh.

Kericuhan terjadi saat puluhan pengunjuk rasa berorasi dan membakar ban di badan Jalan Adam Malik.

Setelah berorasi di badan jalan, petugas mencoba memadamkan api karena massa membakar ban bekas.

Tak diduga terjadi dorong-mendorong dan petugas menembakkan gas air mata, sehingga satu orang pengunjuk rasa dikabarkan terluka.

Situasi tersebut sempat memanas. Pengunjuk rasa dan petugas terlibat kejar-kejaran diduga akibat merasakan mata pedih karena gumpalan asap gas air mata.

Massa selanjutnya menuju Mako Polres Pematangsiantar dan meminta pertanggungjawaban aparat atas aksi yang mengakibatkan seorang tema mereka dikabarkan terluka.

Menanggapi hal itu, Kapolres Pematangsiantar AKBP Fernando saat diwawancarai wartawan, Senin (5/9/2022) siang, mengatakan pihaknya saat itu hendak bertemu dengan pengunjuk rasa untuk berdiskusi.

Namun, mereka telah meninggalkan Mapolres Pematangsiantar.

"Tadi saya hadir di sini mau bertemu mereka untuk menanyakan kejadian sebenarnya tentang kericuhan yang terjadi," kata Fernando.

Fernando menegaskan petugas telah diingatkan memberikan pelayanan yang humanis saat pengamanan unjuk rasa mahasiswa.

"Mereka awalnya datang ke sini dan melanjutkan ke DPRD Pematangsiantar menyampaikan tuntutan," katanya.

Fernando menjelaskan, awalnya aksi mahasiswa berlangsung tertib. Tapi karena ada tuntutan yang mereka rasa kurang puas berkaitan tanda tangan untuk didokumentasikan, mahasiswa membakar ban di jalan di luar Gedung DPRD.

Karena berkaitan dengan fasilitas umum, lanjutnya, petugas mencoba memadamkan api, namun ditolak pengunjuk rasa.

"Sebenarnya ini tidak perlu dipermasalahkan. Untuk itulah, saya datang untuk berdiskusi dengan mereka (mahasiswa), namun mereka beranjak pergi dari sini," kata Fernando.

Jika pengunjuk rasa meminta dirinya dicopot karena peristiwa itu, Fernando menyatakan siap dicopot.

"Kata-kata saya ini bisa dipegang, kalau mereka menilai gara-gara masalah ini," kata Fernando.[br]

Ditanya penyebab kericuhan, Fernando menyampaikan akan melakukan pendalaman. Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) di lapangan akan dicek ke dalam.

"Kemudian ada yang menembakkan gas air mata, akan kami cek siapa yang menembak dan di mana ditembak gas air mata tersebut," katanya.

Ditanya lagi soal mahasiswa yang diduga dipukuli petugas sesuai informasi, apakah sudah ada laporannya ke polisi, mantan Kapolres Tanjungpinang ini mengatakan akan dicek kembali karena belum menerima laporan.

"Belum ada laporan. Seandainya nanti ada laporannya pun, akan saya lihat. Pasti kami akan melakukan pemeriksaan internal lebih dulu," kata Fernando. (*)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Martabe

Sampaikan Evaluasi, Cipayung Plus Sumut Gelar Aksi Unjuk Rasa di Kantor Wali Kota Medan

Martabe

Perayaan Natal dan Tahun Baru di Pematangsiantar Kondusif, Kapolres AKBP Sah Udur Sampaikan Apresiasi

Martabe

Rayakan Natal 2025, Kapolres Pematangsiantar Tekankan Penguatan Iman dan Tugas Pengayoman

Martabe

Pastikan Ibadah Malam Natal Aman dan Kondusif, Kapolres Pematangsiantar Patroli ke Gereja

Martabe

Usai Resmikan Kampung Bersinar, Kapolres Pematangsiantar Sisir Gang Pulo Kumba yang Diduga Sarang Narkoba

Martabe

Pastikan Kelancaran Nataru 2025–2026, Kapolres Pematangsiantar Tinjau Kesiapan Terminal Tanjung Pinggir