Simalungun (
harianSIB.com) Puluhan warga yang tergabung dalam wadah Gerakan Kesadaran Nasional (GKN) berunjuk rasa di Kantor Bupati Simalungun, Selasa (6/12/2023). Aksi itu mendapat pengawalan dari pihak kepolisian. Selain membentangkan sejumlah spanduk, pengunjuk rasa juga menuntut supaya SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di Kelurahan Sinaksak, Kecamatan Tapiandolok, ditutup. Koordinator aksi, Paten Purba mengatakan, terjadi kebocoran BBM di SPBU Sinaksak hingga berdampak kepada terganggunya kebutuhan air minum warga sekitarnya. "Kami masyarakat korban pencemaran air bawah tanah minyak BBM pertalite, pertamax, solar di Kelurahan Sinaksak meminta kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun bertindak tegas," kata Paten. Unjuk rasa itu semula dilakukan di Kantor Lurah Sinaksak. Kemudian, berlanjut ke Kantor Camat Tapiandolok hingga berakhir di Kantor Bupati Simalungun. Paten menduga ada mafia administrasi yang merekayasa seolah kasus bocornya BBM di Sinaksak telah selesai atau sudah diatasi. Padahal, sumber air minum warga dari sumur air bawah tanah masih tercemar. "Tolak mafia administrasi hukum. Kami butuh keadilan," ungkapnya. Dia pun meminta Pemerintah Kabupaten Simalungun dapat segera menyelesaikan masalah pencemaran air bawah tanah tersebut. Usai berorasi, pengunjuk rasa diterima Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Kabag Tapem) Sekretariat Daerah Simalungun, Amon Charles Sitorus. "Seluruh aspirasi telah ditampung. Kami akan sampaikan ke pimpinan untuk tindaklanjutnya," kata Amon (*)