Tanjungbalai
(harianSIB.com)Menyikapi aksi warga yang mengambil kembali mangga asal Thailand yang dimusnahkan dengan cara ditimbun di lokasi Karantina, di Dusun V Desa Bagan Asahan, Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan, Karantina Sumatera Utara Satuan Pelayanan Tanjungbalai Asahan menyesalkan aksi warga yang tidak mengindahkan imbauan yang telah diberikan.
Hal itu disampaikan Humas Karantina Sumut Satuan Pelayanan Tanjungbalai Asahan, Youdha, didampingi Adin selaku Ketua penanggung jawab pemusnahan, kepada harianSIB.com, Jumat (23/5/2025).
Disebutkan, pihaknya telah memberikan peringatan kepada warga dan telah meminta kerja sama warga agar tidak menggali kembali dan mengambil mangga yang telah ditimbun untuk dimusnahkan.
"Imbauan sudah kita sampaikan, tapi tidak diindahkan warga. Bahkan, petugas keamanan sudah mencoba mengusir warga, tapi mereka kembali lagi," sesal Youdha.
Dikatakannya, di lokasi sudah ada pengamanan bekerja sama dengan Bea Cukai Teluk Nibung. Namun, karena warga datang berkerumun, petugas tidak bisa menghalaunya.
"Melihat kondisi masyarakat yang tidak mendukung seperti ini, hal ini sebagai evaluasi juga bagi kami. Mungkin ke depan akan dilakukan proses pemusnahan yang lebih efektif meskipun secara SOP, proses pemusnahan yang kami lakukan memang seperti itu," kata Adin.
Sebelumnya diberitakan, warga di sekitar Bagan Asahan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, menyerbu lokasi pemusnahan 9,3 ton mangga asal Thailand yang sebelumnya diamankan Bea Cukai.
Buah-buahan tersebut dimusnahkan dengan cara dikubur/ditimbun di tanah milik Karantina, tepatnya di Dusun V, Desa Bagan Asahan, Kecamatan Tanjungbalai, Kamis (22/5/2025).
Proses pemusnahan dilakukan dengan cara buah mangga dikubur dalam tanah dan diberikan cairan kimia jenis EM4 (Effective Microorganism 4) untuk mempercepat pembusukan dan mencegah tumbuhnya biji.
Namun sehari setelahnya, Jumat (23/5/2025), puluhan warga dari berbagai usia datang dan menggali tanah tempat mangga tersebut dikuburkan.
Lokasi pemusnahan yang berada di tepi jalan protokol Bagan Asahan ini, tidak dipagar atau dikunci, sehingga warga dengan leluasa bisa masuk ke area tersebut.
Sebagian warga bahkan membawa karung dan becak untuk mengangkut buah mangga yang berhasil mereka gali dari dalam tanah. (*)