Simalungun
(harianSIB.com)Para
petani jagung di Nagori (Desa) Nauli Baru,
Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun menjerit karena jurang lebih 3 bulan tak bisa menanam
jagung akibat
kemarau yang berkepanjangan.
Hal tersebut disampaikan, petani jagung, Boru Gultom, Boru Saragih, Boru Simanjuntak dan Boru Simamora ke jurnalis harianSIB.com, Rabu (27/8/2025).
Boru Gultom didampingi Boru Simanjuntak menyampaikan, sekitar 3 bulan lebih hujan tidak turun dan seluas 10 rante lahan miliknya hingga kini tak bisa ditanami jagung karena tanahnya gersang, keras dan kering akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
"Kurang lebih 3 bulan lahan masih dibiarkan begitu saja dan pola tanam jagung masih ditunda. Tanah masih keras dan gersang, juga kuatir biji jagung tak akan tumbuh dan mati akibat kekeringan," ujarnya.
Boru Simanjuntak juga mengatakan, dirinya dan petani lainnya sama-sama mengeluh karena kemarau yang berkepanjangan sehingga menyebabkan tanaman jagung yang berusia satu bulan hingga dua bulan mengalami kering dan mati kekurangan air.
Warga lain, Boru Simamora mengatakan hal senada, seluas 6-7 rante tanaman jagung berusia dua minggu miliknya mati karena dampak musim kemarau yang berkepanjangan.
Dirinya mengaku rugi karena telah menghabiskan uang untuk pembelian bibit jagung, upah tenaga kerja, pembelian pupuk dan obat-obatan.
Boru Saragih menambahkan, hingga kini dirinya menunda pola tanam jagung. "Kita terpaksa menunda penanaman jagung untuk 8 rante meskipun lahan sudah siap dua bulan yang lalu. Kita kuatir bibit jagung yang ditanam tak akan tumbuh karena tanah masih kering dan gersang," ujarnya.(**)