Antananarivo(harianSIB.com)
Berbagai negara mengalami gelombang protes yang dipicu oleh media sosial dan dipimpin oleh Generasi Z. Yang terakhir adalah Madagaskar. Keterlibatan Gen Z dan penggunaan media sosial telah mengubah cara protes diorganisasi, disebarkan, dan mendapatkan resonansi global.
Demonstrasi terjadi di seluruh penjuru Madagaskar sejak 25 September 2025, yang berpusat di ibu kota Antananarivo. Demo dipimpin milenial, khususnya Gen Z yang awalnya merupakan protes atas kelangkaan air dan listrik, kemiskinan dan dugaan korupsi. Tetapi merambat dan berubah agar Presiden Madagaskar Andry Rajoelina mengundurkan diri dari jabatannya.
Aksi berakibat 22 orang tewas dan hingga Rabu (15/10), militer Madagaskar masih siaga 24 jam sebab eskalasi kerusuhan masih besar pasca Presiden membubarkan kabinet dan memecat Perdana Menteri Christian Ntsay pada 29 September dan menunjuk Jenderal Ruphin Fortunat Zafisambo sebagai perdana menteri baru.
Fenomena 'keberhasilan' Gen-Z dianalisis Dr Hinca Ikara Putra Panjaitan XIII SH MH ACCS. Anggota DPR RI sejak 14 Februari 2018 itu berhadapan langsung dengan pengunjuk rasa Gen-Z pada Agustus di Jakarta. "Suasana batin Gen-Z dipujikan. Idealismenya tinggi dan perjuangannya murni untuk menegakkan keadilan sosial," ujarnya di Medan, Rabu (15/10).
Baca Juga: Dua Kelompok Massa Demo ke Kejati Sumut, Soroti Dugaan Penyimpangan di PDAM Langkat dan Kemenag Humbahas "Perjuangan tersebut akan sangat baik jika referensi tentang kehidupan berbangsa bernegara Gen-Z tak semata dari platform
media sosial tapi dari media mainstream," ujarnya. "Sebab media mainstrem itu dikerjakan
pekerja pers yang terikat dengan kode etik yang bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik itu surat kabar, televisi dan radio serta lainnya," tegasnya.
Anggota Fraksi Partai Demokrat di Komisi III DPR RI itu berharap, medsos yang unggul mengoordinasikan kondisi secara real-time semakin memiliki bobot literasi agar tidak terjadi bias, seperti terlihat di negara luar yang sedang meredam gejolak unjuk rasa.
Editor
: Robert Banjarnahor