Taput(harianSIB.com)
Dua pekan pasca longsor yang memutus delapan pipa transmisi PDAM Mual Na Tio, ribuan warga di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) masih menghadapi krisis air bersih. Minimnya komunikasi dan ketidakhadiran Direktur PDAM dalam penanganan lapangan memicu gelombang protes di media sosial.
Hingga Jumat (5/12/2025), warganet menyoroti absennya pimpinan PDAM dalam dokumentasi penanganan bencana. Tidak ada pernyataan resmi maupun foto kunjungan yang menunjukkan kepedulian pimpinan terhadap krisis air yang meluas.
Delapan titik sumber air mengalami kerusakan berat, yaitu SPAM IKK Tarutung, Aeknasia, Sioma, Horsik, Gorat, Simarlailai, Lobusingkam, dan Simarsasar. Hingga kini, baru tiga lokasi berhasil dipulihkan: Lobusingkam, Aeknasia, dan Gorat.
Keluhan warga membanjiri kolom komentar akun Facebook Pemkab Taput.
Baca Juga: Pelindo Sibolga Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir dan Longsor "Hampir dua minggu air mati total, ada wilayah yang hanya dapat air kotor tidak layak konsumsi," kritik Rudi Simanjuntak.
Erna Gultom mengeluhkan mobil tangki PDAM tak pernah singgah ke kompleksnya. "Air mati sudah sembilan hari. Kami juga butuh air, apalagi ada anak-anak," ujarnya.