Taput(harianSIB.com)
Desainer busana etnik Merdi Sihombing mengingatkan agar ulos adat bernilai spiritual tinggi seperti Ragi Hidup dan Ragi Hotang tidak dipotong atau digunting untuk kepentingan fesyen. Ia menegaskan, tindakan tersebut dapat merusak nilai sakral dan filosofi warisan leluhur Batak.
Pesan itu disampaikannya dalam Seminar Pemberdayaan Perempuan Penenun (Partonun) HKBP pada rangkaian Ibadah Syukur Awal Tahun 2026 Forum Konferensi Perempuan (FKP) HKBP di Pearaja, Tarutung, Jumat (27/2/2026).
"Ulos adat yang memiliki nilai spiritual tinggi peninggalan leluhur tidak boleh sembarangan dipotong atau digunting untuk dijadikan baju fesyen," tegas Merdi di hadapan 40 perempuan penenun dari Tapanuli Raya.
Menurutnya, bagi masyarakat Batak, ulos bukan sekadar kain, melainkan simbol kasih sayang, pengikat relasi sosial, serta medium spiritual yang digunakan dalam siklus kehidupan, mulai dari kelahiran hingga kematian.
Baca Juga: Gokesu Satukan Komitmen Minta TPL Ditutup Permanen Sebagai solusi, Merdi menawarkan konsep reinventing, yakni menciptakan ulang motif ulos dalam medium baru tanpa merusak kain adat asli. Caranya dengan menggunakan benang lebih halus seperti sutra atau benang 100, serta memperbesar skala motif gatip tradisional agar sesuai dengan kebutuhan fesyen modern.
Dengan pendekatan tersebut, motif leluhur tetap hadir dalam produk bernilai jual tinggi dan mampu bersaing di pasar premium, bahkan internasional, tanpa harus mengorbankan ulos sakral.