Tapanuli Utara (SIB)- Dinas Kesehatan (Dinkes) Tapanuli Utara (Taput) mengumumkan hasil penelitian terkait wabah diare yang menyerang warga di 9 Desa khususnya Kecamatan Pahae Jae dan Purba Tua sejak 21-29 Juli 2015. Demikian diungkapkan Plt Kadis Kesehatan Taput dr Janri Nababan kepada SIB, Rabu, (12/8).Dikatakan, hasil penelitian tersebut dilakukan bersama-sama dengan Dinkes Taput dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Medan. Menurut Janri, sumber dan cara penularan diare itu kemungkinan besar melalui sumber air minum yang sudah tercemar oleh kuman Ecoli (kuman usus bakteri) melalui fekal oral (kuman yang bisa melalui mulut dan melalui udara) yang digunakan masyarakat.Hal itu kata Janri, sesuai dengan hasil pemeriksaan air minum dan muntahan penderita secara mikrobiologi (bakteri makhluk hidup kecil) dan identifikasi serta cara penularannya seperti, tidak tersedianya sanitasi sarana jamban (WC) buang air besar sembarangan bahkan di halaman rumah. “Hal ini dapat menyebapkan berbagai penyakit, terutama diare dan akan bertambah wilayah penyebaranya bila tinja penderita dihinggapi lalat atau vaktor penyakit laninya,â€ujarnya.Janri menambahkan, identifikasi lain, tidak tersedianya saluran pembuangan air limbah sama sekali. “Air limbah rumah tangga tergenang begitu saja di sekitar rumah yang dapat menimbulkan berkembangbiaknya bakteri penyebab penyakit Saluran pembuangan limbah rumah tangga yang bersamaan dengan pembuangan kotoran ternak (babi) dan tinja manusia yang semuanya dibuang ke sungai,â€ucapnya“Masalah air yang digunakan penduduk di Kecamatan Pahae Jae dan Purbatua adalah, sumber air yang berasal dari mata air tidak diolah yang baik sampai ke rumah penduduk da air tergenang begitu saja berupa kolam tanpa penutup, serta dialirkan melalui parit tanah sehingga air berpeluang tercemar kotoran atau zat pencemar lainnya,â€sebut JanriDijelaskan, sumber air yang berasal dari sumur gali sangat berdekatakan dengan septik tank, sehingga air sumur dapat tercemar oleh tinja dari septik tank tersebu dan sumber air yang berasal darvi sungai Sipurik-purik dialirkan langsung ke rumah penduduk melalui pipa tanpa pengolahan terlebih dahulu.“Prilaku penduduk terhadap kesehatan sangat kurang, baik terhadap lingkungan maupun kebersihan diri sendiri serta tidak adanya sarana pengolahan sampah yang baik, sampah berserakan di pemukiman penduduk, dibakar dan dibuang ke sungai,â€ungkapnya.(E02/K)