Ibu Lima Anak Dipasung Selama Lima Tahun di Brandan Barat

- Minggu, 16 Agustus 2015 16:59 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/08/hariansib_Ibu-Lima-Anak-Dipasung-Selama-Lima-Tahun-di-Brandan-Barat.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Lesman Simamora/
DIPASUNG: Salawati hidup menyendiri dipasung di gubuk reot selama lima tahun dengan kondisi kaki kanan di rantai.
Brandan Barat (SIB)- Ibu lima anak diduga menderita gangguan jiwa terpaksa dipasung keluarganya karena sering mengamuk dan bahkan sempat ingin membunuh orang tua kandungnya. Dia adalah Salawati (38) warga Lingkungan III Kampung Baru, Kelurahan Pangkalan Batu, Kecamatan Brandan Barat, Langkat. Ia dipasung keluarganya sudah mencapai lima tahun.Kini kondisi Ibu Rumah Tangga (IRT) berbadan kurus berambut ikal itu sangat memprihatinkan, kaki kanannya dirantai besi sepanjang lima meter sudah lima tahun lamanya. Parahnya lagi, setiap harinya wanita yang telah memiliki lima orang anak dari perkawinan yang gagal sebelumnya itu makan dan buang air di sekitar pondok reyot dimana ia dipasung.Di atas lantai bambu berdinding tepas serta hanya beratap daun nipah yang sudah usang, Ia  menjalani hidupnya sendirian tanpa ditemani kelima anak anaknya termasuk mantan suaminya, hanya orangtuanya yang sudah tua renta yang setiap hari memberinya makan. Fauziah (60) orang tuanya ketika ditemui wartawan baru-baru ini mengaku sangat miris melihat kondisi putri pertamanya dari tujuh bersaudara itu. Sebenarnya ia berkeinginan untuk memulihkan kondisi kejiwaan putrinya, namun karena  ketiadaan  biaya, dia  hanya berharap uluran tangan dari pemerintah dan belas kasihan orang lain untuk kesembuhan putrinya. “Saya ingin minta bantuan kesembuhan anak saya ini dari uluran tangan pemerintah, sebab  kami keluarga sudah tak mampu untuk membawa dia berobat , karena ketiadaan uang, “ujar Fauziah di dampingi putrinya Nurainun degan bola mata berkaca-kacaLebih lanjut ia mengaku sudah tidak berdaya lagi untuk memberi nafkah setiap harinya apalagi membawa Salawati berobat karena keterbatasan biaya. Fauziah bercerita, kalau untuk mengobati anaknya itu sudah berbagai cara dilakukannya, mulai dari pengobatan medis hingga orang pintar, namun penyakit putrinya tidak kunjung sembuh.Saya hampir putus asa, sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengobati anak saya ini. Apalagi kebutuhan hidup yang semakin meningkat sedangkan penghasilan tidak seberapa. Berbagai usaha dan upaya telah dilakukan, namun hasilnya tidak seperti diharapkan, dan malah penyakitnya semakin parah, ujarnya.“Dulunya Salawati sehat dan sempat berumah tangga hingga memiliki lima orang anak dari hasil pernikahannya dengan suaminya. Namun setelah delapan tahun kemudian kondisi jiwanya terganggu, Salawati kerap mengamuk tak tentu arah, bahkan Salawati tanpa sadar pernah ngin membunuh saya," ungkap Fauziah mengenang peristiwa yang ia hadapi.Akhirnya pihak keluarga bersepakat memutuskan memasung Salawati karena takut Salawati mengganggu tetangga atau melukai orang lain, termasuk orang tua kandungnya.“Terkadang hati ini menangis jika melihat kondisi putriku seperti ini. Tidak pernah terpikir olehku anak ini hidup di dalam pasungan. Sebab merunut asal usul keluarga, tidak ada keturunan yang seperti dia (Salawati-red),”  kenang Fauziah. (B04/y)


Tag:

Berita Terkait

Martabe

BPBD Tapteng Berjibaku Evakuasi Warga, Antisipasi Banjir Susulan

Martabe

Munas I Parsadaan Manik Raja Marbona Indonesia, Jhon P Manik Terpilih Jadi Ketum DPP Periode 2026-2031

Martabe

Pecah Ban, Truk Angkut Sawit Tabrak Mobil di Jalinsum Sukajadi Labura

Martabe

Sungai Meluap, Banjir Rendam Permukiman Warga Kota Sibolga

Martabe

Relevansi Das Kapital dalam Dinamika Ekonomi Indonesia Kontemporer

Martabe

Pdt Dr Toni Liston Hutagalung dan Pdt Dormen Pasaribu Terpilih Menjadi Ephorus dan Sekjen HKI