Simalungun (SIB)- Keluarga Appen Silalahi dengan R br Naibaho yang berdomisili di Sait Borno, Nagori Tambunraya, Pamatang Sidamanik, Simalungun, membutuhkan uluran tangan dari dermawan dan orang-orang yang tersentuh untuk mau berbagai kepedulian membantu mereka.Appen Silalahi dan R Naibahi ketika ditemui, Kamis (27/8) sore di Tambunraya, mengatakan bahwa kondisi kehidupan mereka sungguh memprihatinkan, tidak memiliki rumah dan hanya tinggal di tenda di perladangan dekat pantai Danau Toba. Kondisi yang semakin memprihatinkan ini dialami ketika Appen Silalahi sakit keras dan tidak bisa bekerja lagi. Pak Eppi (sebutan Appen) mengalami sakit sesak napas dan Lever. Ketiadaan uang untuk berobat, membuat dia hanya tinggal di gubuk saja setiap harinya. “Saya sendirilah yang membiayai hidup kami,†kata R Naibaho.Selanjutnya ibu yang memiliki empat anak ini menceritakan bahwa lima tahun lalu, mereka tinggal di salah satu perkebunan di Tanah Jawa. Namun karena perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja, Keluarga Appen pulang kampung dan sempat tinggal di rumah keluarga di Borno. Bertahun-tahun berdomisili di tempat keluarga dan belum ada perubahan hidup, maka mereka sepakat untuk tinggal di lahannya sendiri dengan mendirikan tenda. Dalam tenda ukuran 3 m x 3 m inilah mereka tinggal bersama 4 anak.“Di tenda ini kami sudah tinggal 3 bulan namun kami tetap bersabar karena penghasilan yang tidak memadai. Anakpun sudah ada yang putus sekolah karena ketiadaan biaya, yang sekolah hanya 3 orang yaitu kelas 1 dan kelas 2 SD. Anakku sering tinggal kelas, sehingga walau umurnya sudah di atas sepuluh tahun masih tetap kelas 2 SD,†katanya seraya menyebut bahwa dirinya dan suaminya tidak terlalu memperhatikan sekolah anaknya dan harus fokus terhadap pengobatan suami.R Naibaho tanpa malu dan ragu mengharapkan kepada siapa saja yang mau membantu keluarganya. Kami mohon bantuan baik dari pemerintah dan juga dari orang-orang yang peduli terhadap kaum miskin. “Lahan untuk mendirikan "gubuk" yang layak kami punya, namun biaya untuk membangunnya kami tidak punya. Gaji Rp 40.000 sehari sebagai buruh tani tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga dan juga biaya pengobatan Appen Silalahi,†katanya.Tokoh masyarakat Tambunraya Sopar Silalahi dan Patia Silalahi ketika dihubungi Jumat (28/8) merasa prihatin dengan kondisi keluarga Appen Silalahi dan berupaya mencari solusi dan jalan keluar agar keluarga Appen dapat tinggal di rumah yang layak huni, kata Sopar.Pantauan SIB, di lokasi tenda milik Appen Silalahi terlihat sangat memprihatinkan, tenda hanya ukuran 3 m x 3 m untuk didiami 6 orang, di dalam tenda hanya terbentang tikar untuk tempat tidur dan tempat kain keperluan sehari-hari. Tanpa kamar mandi, tanpa penerangan listrik, tempat memasak di luar tenda. Sangat memprihatinkan, bila hujan turun, air sering menggenangi tikar yang di dalam tenda. Tenda terletak di perladangan dan agak jauh dari pemukiman. (C11/d)