Seminar Sehari di STT HKBP “Membangun Kesadaran Gender dalam Keluarga

- Rabu, 02 September 2015 19:49 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/09/hariansib_Seminar-Sehari-di-STT-HKBP--Membangun-Kesadaran-Gender-dalam-Keluarga.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Pematangsiantar (SIB)- Kesetaraan peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga merupakan hal yang mendasar perlu dibangun sejak dini untuk kesejahteraan setiap anggota keluarga. Kesetaraan ini tidak otomatis terjadi meskipun sejak awal bahkan sejak kisah penciptaan, kesetaraan merupakan pondasi perkawinan di mana manusia laki-laki dan perempuan diciptakan segambar dengan Allah.Demikian Ketua Rumah Sophia PuSKG (Pusat Studi Kajian Gender HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Pdt Nelly Br Hutahaean MSi pada acara seminar sehari “Membangun kesadaran gender dalam keluarga” , Selasa (1/9) di Aula STT HKBP Jalan Sangnaualu Pematangsiantar yang dihadiri lebih kurang 250 peserta.Hadir antara lain Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata MA, Pdt Dr Robinson Butarbutar, Plt Sekolah Pendeta HKBP Pematangsiantar, Pdt Klause Goeke dari Gereja West Phalia dan Pdt Franke Laaser dari Gereja Rhine Land, Pdt Jojor Silalahi MTh dan Pdt Wilda Simanjuntak MDiv (Sekretaris dan Bendahara  Rumah Sophia PuSKG), Lidya Siahaan serta para peserta dan mahasiswa/i STT HKBP Pematangsiantar.Pdt Jojor Silalahi MTh dan Pdt Wilda Br Simanjuntak MDiv mengatakan tujuan seminar membangun kesadaran gender warga jemaat, membangun keluarga yang utuh dan harmonis, memotivasi pewarisan nilai-nilai gender yang adil sejak dini kepada anak dalam keluarga dan mengembangkan budaya Batak yang adil dan bersahabat terhadap perempuan. Nara sumber Pdt WTP Simarmata MA, Dra Erlina Pardede, Prof Selviana Napitupulu dan Pdt Dr Rosanne Swanson.Menurut Pdt Nelly Br Hutahaean MSi ,  di tengah-tengah dinamika perkembangan masyarakat struktur hubungan antara laki-laki dan perempuan pada umumnya ditandai dengan bentuk hierarki atasan-bawahan, kepala-anggota, dan tuan-hamba. Namun perkembangan masyarakat telah ditandai dengan tersedianya peluang yang semakin besar bagi perempuan untuk berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Pada satu sisi, perkembangan ini telah meningkatkan kesadaran gender, namun pada sisi lain sedikit banyaknya telah berakibat bagi pergeseran hubungan antara laki-laki dan perempuan.Pergeseran hubungan ini terjadi bukan hanya dalam lingkungan kerja di masyarakat tetapi juga dalam ranah rumah tangga. Pergeseran ini kerap menghadapi tantangan dalam lingkungan keluarga terutama bila suami dalam sebuah keluarga belum siap berbagi peran yang setara dengan istrinya.Ketidaksiapan suami menghadapi perubahan tersebut, sedikit banyaknya telah memengaruhi keharmonisan rumah tangga. Kemudian perjuangan kesetaraan yang memberikan peluang yang semakin besar bagi para perempuan untuk mengembangkan dirinya di tengah-tengah masyarakat sering tidak mendapat dukungan dari keluarga khususnya suami, karena nilai-nilai dalam keluarga yang umumnya dipengaruhi oleh budaya masih belum sadar gender.Peran istri dalam keluarga yang dianut suami masih dalam faham tradisional yang menempatkan istri sebagai penopang utama urusan rumah tangga. Akibatnya istri yang aktif bekerja di luar rumah sering merasa tidak mampu bila di rumah juga harus mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri dan suami juga tidak siap bila harus berbagi peran dengan istrinya dalam mengurus urusan rumah tangga.Pada pihak lain sehubungan dengan pergeseran nilai, istripun bisa juga tidak memahami apa dan bagaimana peran dan tanggung jawab suami di dalam keluarga. Hal ini berakibat bagi ketidak harmonisan dalam keluarga. Dalam hal ini, baik suami maupun istri atau laki-laki dan perempuan memainkan peran yang memengaruhi kesadaran gender dan kesetaraan laki-laki perempuan. “Maraknya percekcokan dalam rumah tangga dan perselisihan yang berujung pada perceraian yang tidak terhindarkan adalah suatu gejala yang menunjukkan ketidaksetaraan dan bias gender”, ujar Nelly Hutahaean.Sementara Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata dalam paparannya mengatakan bahwa HKBP harus menjadi berkat bagi dunia dengan melaksanakan visi dan misinya yaitu pembaharuan, perdamaian dan pemberdayaan. HKBP tentu kelak maunya akan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi Ephorus HKBP, tapi bukan karena “jambar” atau pemberian tapi karena sudah pas (kompetensi).Acara diawali ibadah dengan pengkhotbah Pdt Rospita Siahaan. Selesai ibadah Pdt Klause Goeke dan Pdt Franke Laaser memberikan cenderamata kepada Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata, Pdt Dr Robinson Butarbutar, serta Pdt Nelly Br Hutahaean MSi. (R-18/c)


Tag:

Berita Terkait

Martabe

Polisi Tangkap Tiga Pencuri Batik Senilai Rp 1,3 Miliar di JICC

Martabe

Tudingan Setoran Fantastis Rp 1 Miliar, Kapolres Bima Kota Jadi Sorotan

Martabe

Mabes Polri Proses Eks Kapolres Bima Kota, Oknum Terlibat Terancam Sanksi

Martabe

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Terima Kunjungan Edukatif Pesantren Darularafah Raya di Fuel Terminal Medan

Martabe

Cipta Kondisi di Rantauprapat, Polres Bersama Kodim dan Pemkab Labuhanbatu Patroli Gabungan

Martabe

Libur Panjang Imlek 2026, Jasamarga Catat Peningkatan Volume Lalin di 6 Ruas Tol Regional Nusantara