Pematangsiantar (SIB)- Materi kampanye Pilkada di kota Pematangsiantar diminta MMI (Majlis Muslimin Indonesia) jangan menyentuh aqidah agama, suku dan ras untuk menjaga kesinambungan keharmonisan kehidupan masyarakat yang sudah terbina hampir tigapuluhan tahun.Hal ini diserukan Ketua DPC MMI Pematangsiantar Ir Bonatua Pospos kepada SIB, Rabu (18/11).Menurutnya, materi kampanye para Paslon (pasangan calon) dan pendukungnya menitikberatkan program nyata untuk rakyat tidak asal muluk-muluk. Rakyat sekarang ini sudah kritis menilai dan pasti mendukung dan menyambut Paslon apabila programnya memprioritaskan kelanjutan pembangunan yang masih terbengkalai .Memberi contoh, paska Wali Kota Abu Hanifah, Terminal Tanjung Pinggir bertahun-tahun tak difungsikan maksimal meski sudah gonta ganti wali kota. “Lantas jika wali kotanya bijak, tentu diteliti apa faktor penyebabnya. Dicari solusi mengatasinya. Metoda inilah yang dibutuhkan kota Pematangsiantar sekarangâ€, papar mantan anggota DPRD Pematangsiantar era 1987-1992.Contoh lain, bagaimana mengembalikan citra kota Pematangsiantar penyandang predikat kota nomor dua di Sumatera Utara.Lalu problematik kemacetan arus lalulintas mewarnai ruas jalan protokol kota Pematangsiantar dibiarkan tanpa kendali perencanaan matang. Jelasnya,orientasi materi kampanye sebaiknya lebih menitikberatkan apa yang mendesak dibutuhkan kota Pematangsiantar. Hindari materi kampanye menyentuh suku dan ras.(C01/c)