Tarutung (SIB)- Wakil Bupati Taput Dr Mauliate Simorangkir membuka Seminar Kehidupan Geraja dan Peradaban Masyarakat Batak masa kini yang diikuti para pendeta, tokoh masyarakat dan mahasiswa dengan pembicara Ephorus Emeritus HKBP Pdt Dr JR Hutauruk, Pdt Nelson Siregar, Pdt Dr Darwin Lumbantobing, Direktur Pasca Sarjana STAKPN Dr Simion Harianja dan Simon Tobing (keluarga Amandari), Kamis (10/12) di Aula STAKPN Tarutung. Maulite Simorangkir mengatakan, ada tiga tokoh serangkai dalam perjalanan peradaban orang Batak pada masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Ketiga tokoh tersebut yaitu Dr IL Nommensen, Raja Amandari Lumban Tobing dan Raja Pontas Lumban Tobing. Mereka tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam peradaban orang Batak. Mereka menunjukkan kontribusi dan integritasnya terhadap peradaban orang Batak. "Oleh karena itu di dalamnya akan ada tinjauan antropologi, ideologi, politik dan sosial budaya, bahkan pertahanan keamanan di mana masyarakat Batak pada zaman dahulu tetap mempertahankan keamanannya," katanya. Menurutnya, hasil yang diharapkan dari seminar itu dalam upayah penyusunan sebuah buku tentang peradaban masyarakat Batak. "Salah satu tujuan buku itu adalah untuk menyampaikan kepada generasi muda, bahwa kita bukanlah masyarakat terbelakang pada zaman dahulu, tetapi kita sudah memiliki ilmu pengetahuan, mampu beradaptasi dengan ilmu yang ditemukan para ahli atau aspek-aspek ilmu itu sudah ada dalam diri orang Batak," katanya. Para nara sumber banyak berbicara tentang peranan tiga tokoh serangkai tersebut dalam perjalanan injil di tanah Batak terutama dua tokoh pribumi tersebut untuk mendukung pekerjaan Dr IL Nommensen dalam menyebarkan Injil di Tanah Batak. Dr Simion Harianja menyebutkan, kepribadian Raja Amandari yang patut diteladani antara lain, rela berkorban, berani menghadapi resiko, berwibawa dan disegani, sikap toleransi dan keterbukaan menerima pembaharuan, menghargai perbedaan, setia dan melindungi Hamba Tuhan. Sebelumnya ia menjelaskan tentang masuknya Injil di Rura Silindung dan menjelaskan tentang Huta Dame di Sait Nihuta yang kini Huta Dame itu masih tetap ada. (E01/c)