Medan (SIB)- Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut menggelar workshop fotografi jurnalistik, bertajuk "ketika foto berbicara", dengan pembicara Rully Kesuma, redaktur foto Tempo, Kamis (7/12) di Diponegoro Room, Hotel Polonia Medan. Ketua SPS Sumut H Farianda Putra Sinik SE mengatakan, foto dalam media massa tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap pesan yang ingin disampaikan komunikator, tapi foto merupakan pesan itu sendiri.Satu foto yang disajikan dalam surat kabar, kata dia, tidak lepas dari tujuan jurnalistik, yaitu menyebarkan berita seluas-luasnya. Foto akan membuat pemberitaan menjadi lebih lengkap, akurat dan menarik. Untuk menghasilkan gambar atau foto yang berkualitas, diperlukan pengetahuan serta keterampilan yang baik mengenai foto.Rully Kusumah mengatakan, ada dua pendekatan foto: direncanakan dan tidak direncanakan. Yang direncanakan seperti foto untuk kegiatan politik, ekonomi, olahraga, seni dan lainnya. Misalnya, kata Rully, jika Kapolri hendak datang, momen yang menjadi sasaran foto sudah ada seperti bersalaman, penandatanganan, pemukulan gong dan yang lainnya."Tapi meski itu kegiatan yang direncanakan, hendaknya jangan terlalu fokus dengan acara itu saja. Fotografer harus bisa melihat sekeliling, pasti ada momen yang menarik. Misalnya, pernah ketika Presiden SBY berpidato, para menterinya tidak mendengarkan, tapi sibuk main gadget, karena foto bisa memvisualkan cerita," terangnya.Sedangkan foto yang tidak direncanakan kata Rully adalah , foto yang tidak bisa diatur oleh sang fotografer. Misalnya kecelakaan, gempa bumi atau sering disebut spot news. Untuk itu diperlukan kecepatan dan kecekatan fotografer sehingga bisa menghasilkan foto-foto yang baik. Dia juga mengingatkan perlu juga kewaspadaan jika memfoto pada sebuah peristiwa."Misalkan saja, lagi ada tawuran, demonstrasi, jarak foto perlu menjadi pertimbangan kita, jangan sampai sesuatu yang mengakibatkan cedera terjadi pada kita. Bisa saja kita kena sasaran, maka perlu jarak yang aman," paparnya. (A10/l)