Medan (SIB) -Untuk melatih rasa empati dan peduli kepada sesama yang berkebutuhan khusus, sekitar 50 siswa-siswi Taman Kanak-kanak (TK) Katolik Fajar yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk No 10 Medan menggelar kunjungan kasih ke Sekolah Luar Biasa tunagrahita (SLB-C) Karya Tulus di Jalan Lapangan Golf, Dusun III, Namopencawir, Medan Tuntungan, Sabtu (24/3).Kepala Sekolah TK Fajar Martha Lismawaty Aritonang SPd AUD mengatakan anjangsana ke SLB-C Karya Tulus merupakan yang pertama kali, dengan misi menumbuhkan empati siswa-siswi yang berkesempatan melihat langsung anak-anak tunagrahita."Kunjungan ini semoga mengasah hati siswa-siswi TK Fajar untuk belajar bersyukur karena melihat saudara-saudara mereka yang kurang beruntung. Di sini siswa-siswi berkumpul, bernyanyi, dan makan bersama mereka. Kami juga membawa sumbangan untuk kebutuhan asrama dan membagikan hadiah untuk semua anak,'' katanya.Martha mengungkapkan sumbangan berupa sebagian bahan-bahan kebutuhan pokok adalah hasil kebersamaan dari pihak sekolah dan orangtua siswa, serta sumbangan perkumpulan orangtua yang anaknya merupakan alumni TK Fajar.Ketua Panitia Hendri Antonius Tampubolon SH, didampingi Wakil Ketua Raja DN Girsang SE, Sekretaris Margaretha M R Sitompul SH, Bendahara Jane Erawati SH MKn, Humas I Irwanto F Situmorang ST MM, dan Reynald P Pangaribuan SE menyampaikan latar belakang panitia memilih beranjangsana ke SLB-C Karya Tulus."Misinya menumbuhkan rasa kasih kepada anak-anak kita meskipun mereka belum sepenuhnya mengerti. Sebagai orangtua rasanya penting menunjukkan ada anak-anak yang kurang beruntung hidupnya seperti anak-anak kita,'' katanya.Kepala SLB-C Karya Tulus, Suster Ignosensia Ginting SFD mengucapkan terima kasih kepada para guru dan orangtua siswa TK Fajar yang berkunjung dan memberikan uluran kasih untuk anak-anak asuhnya.Suster Ignosensia menjelaskan sekolah yang dirintis Suster Lambertha SFD, misionaris asal negeri Belanda itu tadinya berlokasi di Jalan Pemuda 1, Medan. Mengingat yang dididik adalah anak-anak keterbelakangan mental, lokasi sekolah dipindahkan ke Dusun III Namopencawir yang lebih tenang.Hingga saat ini terdapat sekitar 65 penghuni panti asuhan dari umur 9 hingga 34 tahun dengan dibantu 3 suster dan 10 orang relawan penuh-waktu."Kebanyakan anak diantar ke sini oleh keluarganya. Tapi ada juga yang dibawa oleh petugas Dinas Sosial," jelasnya.Dalam praktiknya, sekolah beroperasi dari uluran tangan kasih sejumlah donatur yang secara militan menyumbangkan sembako dan keperluan mandi, serta sebagian kebutuhan keuangan asrama."Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak, baik itu sekolah, swasta, maupun perorangan yang terbeban dengan anak-anak asuh kami. Tuhan memberkati tangan mereka yang memberi dengan sukacita," pungkasnya. (R4/f)