Binjai (SIB)- Selain tujuh orang satu keluarga yakni Burhanuddin (50), Fahrianty (48), Dedi Handrian (23), Neneng Nurainun (19), Maya Oktavianty (17), Dika Ferdian (9) dan menantu Yani (20), yang menjadi korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6) lalu, ternyata ada pasangan suami istri lainnya warga Kota Binjai yang dikabarkan menjadi korban. Pasangan itu adalah Doni Septyawan (28) dan istrinya Ariansa (26). Warga Jalan Datuk Bakar, Kelurahan Pekan Binjai, Kecamatan Binjai Kota itu ikut menumpang kapal motor maut itu.Ketika SIB mendatangi rumah pasutri yang dikenal ramah dan murah senyum itu di kawasan Pasar Tavip, Kelurahan Pekan Binjai, ternyata rumah semi permanen yang ditinggali pasutri itu dalam kondisi terkunci dengan lampu masih menyala. Tidak tampak aktivitas orang di dalam rumah.Menurut tetangganya, selama ini korban biasanya berjualan kerang di Pasar Tavip, tinggal bertiga di rumah itu dengan sang istri dan anaknya, yang berusia 8 bulan.Beberapa tetangga mengaku, Doni Septyawan (28) dan istrinya Ariansa (26) menjadi korban KM Sinar Bangun, semenjak mereka tidak dapat menghubungi melalui selulernya. Bahkan di sosmed beredar berita kalau pasutri itu ikut menjadi korban.Abdul Muluk (56), yang juga kakek korban mengakui, selama ini Doni ikut menjadi penjual kerang dengan Saleh (sang Ayah). "Doni juga dikenal sebagai pria yang ramah, baik kepada keluarga maupun warga lainnya." ungkapnya, Jumat (22/6) siang.Muluk menerangkan, Doni bersama istri, anak dan ibunya, berangkat pulang kampung ke Pematangsiantar tepat pada Lebaran kedua, Sabtu (16/6) lalu.Pada Senin (18/6) sekitar pukul 06.00 WIB, Doni menitipkan anaknya ke ibunya di Siantar, karena akan pergi wisata ke Danau Toba bersama istri dan adiknya. "Mereka berangkat waktu itu menggunakan sepeda motor. Keluarga juga sudah mencoba menghubungi Doni melalui telepon genggamnya namun tidak tersambung," katanya.Dikatakan sang kakek, kedua orangtua kandung korban, saat ini berada di Tigaras untuk ikut melacak keberadaan anak dan menantunya tersebut."Kami merasa kehilangan. Kami berharap beliau bisa ditemukan, walaupun kondisi meninggal ataupun hidup. Kami terus mendoakan mereka. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan agar diberi kesabaran, karena hidup dan mati adalah urusan Tuhan," ujar Abdul Muluk. (A25/d)