Medan (SIB) -Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek mengaku terkejut di era globalisasi seperti saat ini masih ada kasus stunting di Indonesia termasuk di Sumut. "Saya kaget di Langkat pada tahun 2013, kasus stunting angkanya sangat tinggi yakni 55,48%. Artinya dari dua anak, satu di antaranya mengalami stunting.
Stunting gak enaknya bukan hanya fisiknya yang pendek tetapi yang dikhawatirkan otaknya juga ikut pendek. Bayangkan, sebanyak itu, kepandaiannya tidak meningkat," kata Menku dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Raker Kesda) Provinsi Sumut yang digelar tanggal 11-12 Juli 2018 dihadiri Pj Gubsu Eko Subowo, para kepala dinas kesehatan dari kabupaten/kota yang ada di Sumut di Emerald Garden Hotel Medan, Rabu (11/7).
Menurutnya, negara Indonesia akan ikut terbebani dengan masalah itu. Jika 50% anak di daerah mengalami stunting, maka ke depan Indonesia tidak akan maju. Saat ini program pemerintah pusat sedang difokuskan pada pembangunan infrastruktur.
Kemenkes mengambil program stunting sebagai bahan dasar. Kesehatan adalah hal yang terpenting dan menjadi nomor satu yang menjadi fokus utama, kemudian pendidikan. "Tidak mungkin jika kesehatannya buruk, fisik dan kognitifnya mengalami stunting, akan menjadi orang yang berpendidikan.
SDM berkualitas harus didukung kesehatan yang baik. Sebenarnya sesuai nawacita Presiden Jokowi, kita telah mendorong sejak dahulu agar masyarakat Indonesia menjadi manusia yang pandai.
Memang geografis setiap daerah tidak sama. Tidak semua wilayah mendapatkan akses yang mudah. Tetapi kita akan tetap berupaya penanganan ini dalam program gerakan masyarakat (Germas)," ujarnya.
Dikatakannya, pada tahun 2018, secara nasional keberhasilan usaha pemerintah dalam penurunan tingkat stunting mencapai 28%. Selanjutnya, tambah Nila, Tuberculosis Multi Drug Resistent (TB-MDR) semakin naik. Ada penelitian di Litbangkes, TBC bukan berasal dari MDR, namun bisa juga manusia sehat terkena TBC. "Saya terkejut mendengar ada satu orang yang bekerja di Jepang, tidak diperbolehkan masuk karena mengalami TBC. Mau gak kita selalu diusir di luar negeri karena TBC.
Kalau bisa kita yang mengatakan begitu ke orang asing tersebut agar jangan masuk negara kita karena TBC. Karena itu kita ingin negara kita bebas TBC," bebernya. Ia meminta agar para ahli kesehatan tidak menyebut istilah TBC dengan TB. Hal ini tidak dipahami masyarakat.
"Sudahlah TBC aja. Tidak usah TB. Ini asing bagi masyarakat," tegasnya. Nila juga berharap, agar kasus- kasus seperti ini bukan hanya difokuskan ke Puskesmas semata, tetapi juga temuan-temuan berasal dari rumah sakit dan mandiri.
Disarankannya, agar para ibu dapat memerhatikan anakanaknya. Berawal dari dalam kandungan hingga lahir, agar tercukupi asupan gizinya. Menteri meminta agar para ibu secara rutin membawa bayinya untuk diimunisasi. Program ini, katanya, akan dilaksanakan pada Agustus hingga September 2018.
Imunisasi yang diberikan adalah jenis measles rubella (MR). Measles adalah campak. Sedangkan rubella adalah penyakit ke arah pengapuran pada otak, jantung, mata dan telinga pada anak. Ini menyebabkan cacat yang parah. "Target di luar Pulau Jawa, harus diselesaikan tahun ini. Sementara di Pulau Jawa sudah mencapai target hampir 100%. Memang minimal target kita sebesar 95%. Maksudnya, 90% terimunisasi maka dapat mencapai kesehatan yang baik. Jika masih 70%, maka orang sehat dapat tertular penyakit-penyakit yang berbahaya," tukasnya. (A17/l)