Medan (SIB) -Buah nenas produksi lokal maupun dari luar Sumatera Utara akhir-akhir ini semakin langka di pasar tradisional maupun di pasar modern di Medan. Kelangkaan komoditi ini berdampak pada harga menjadi mahal. Padahal buah nenas sempat "marak" masuk dari berbagai "penjuru" ke Medan selain buah lokal dari Sipahutar (Taput), Pematangsiantar, Balige Aceh, Dumai dan Pekanbaru juga nenas impor dari Taiwan.
Sebelumnya nenas produksi lokal dan luar Sumut ramai diperjualbelikan di pinggir jalan-jalan di Medan menggunakan mobil atau truk mini. Sedangkan buah nenas impor masuk dari Taiwan. Namun hal seperti ini tidak lagi ditemukan di Medan dalam dua pekan ini.
Menurut pantauan SIB, Selasa (28/8), nenas yang dijual umumnya buah lokal dan stoknya menipis baik di pasar tradisional maupun di pasar moderen dibanding beberapa pekan sebelumnya. Harganya bervariasi mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 17.500 per buah.
Di Pasar modern yakni Berastagi Buah Jalan Wajir, harga nenas asal Taput Rp 17.500. Terlihat stoknya menipis. Di pajangan ini tercantum buah nenas dari Taput. Buah impor dari Taiwan belum masuk begitu juga buah nenas lokal lainnya.
Menurutnya, buah nenas sangat diminati banyak orang karena baik untuk kesehatan, bahkan disebut anti korestrol.
Konsumen cenderung suka nenas yang sudah dikupas dinilai lebih praktis, sampai di rumah langsung dimakan. Namun lagi-lagi stoknya minim untuk dijual.
Akibat stok buah nenas menipis, pedagang nenas siap kupas di Jalan Purwosari sudah sepekan ini tidak lagi menjual buah tersebut. "Biasanya kita jual Rp 10.000 per buah, sudah termasuk kupas dan plastik pembungkusnya, upah kupas hanya Rp 2.000, ujar Sulbia.
Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumut melalui Kasi Program Fahri Perangin-angin kepada SIB, Selasa (28/8) menyebutkan, daerah penghasil nenas ada di 25 kabupaten/kota dari 33 kabupaten/kota di provinsi ini.
"Penghasil nenas terbesar yakni Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara," ungkap Fahri. Penghasil nenas lain yakni Kabupaten Dairi, Humbahas dan Pakpak Bharat.
Pada triwulan II Januari hingga Juni 2018 produksi nenas sebanyak 5.843 ton dari areal tanam 1.296.000 rumpun. Per rumpun tanaman nenas sebanyak 4,5 Kg.
"Dari 5.843 ton, di antaranya 2.543 ton produksi Sipahutar Taput, menyusul Dairi 1.200 ton, Humbahas 118 ton dan Phakpak Barat 146 ton. Di Sipahutar tanaman nenas merupakan pencaharian masyarakat di sana. Jadi tidak heran Sipahutar Taput centra nenas tertinggi di Sumut," ujar Fahri didampingi stafnya Rihard Simanjuntak.
Tanaman nenas ini tidak menggunakan bibit, namun rumpun dan rumpun yang menjalar dikembangkan untuk berbuah. Sama seperti tanaman pisang.
Selama tahun 2017, produksi buah nenas di Sumut sebanyak 165.551 ton, di antaranya 157.000 lebih produksi Sipahutar Taput. (A2/d)