Medan (SIB)
Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengaku heran atas sikap Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) yang akan kembali mengirimkan kuota internet gratis tahap II bagi para pelajar, mahasiswa, guru, dan juga dosen pada 28-30 Oktober. Sementara penyaluran tahap 1 pada September yang lalu banyak yang belum dapat.
"Dalam catatan P2G awal Oktober kemarin , kami Menerim laporan di 14 provinsi jaringan kami bahwa yang melapor untuk sesi pertama pada September banyak guru dan siswa yang tidak dapat bantuan kuota, termasuk saya sendiri. Saya yang merupakan guru di salah satu sekolah di Jakarta belum mendapatkannya. Dan kita sudah melaporakannya kepada Pusdatin Kemendikbud. Artinyakan bahwa bila tidak dapat tahap I maka otomatis tidak akan mendapatkan bantuan kuota internet gratis pada bulan-bulan selanjutnya. Atas kejadian ini, kami meminta dan memberikan usulan kepada Pusdatin agar diakumulasikan. Jadi kami yang tidak dapat di bulan September diakumulasikan di bulan Oktober. Itu baru adil," jelasnya kepada SIB, Kamis (22/10).
Lanjutnya, selain melaporkan hal tersebut, ia juga meminta agar jaringan akses dengan kuota interntet tersebut diperluas lagi, bukan hanya pada website atau aplikasi yang sudah ada saat ini. Pasalnya, banyak orang yang justru awam dengan aplikasi dan website yang dipilih Kemendikbud dan juga pihak operator.
"Kuota internet yang dibagikan itu ada dua jenis, yakni kuota umum 5 GB untuk kuota belajar 30 GB. Nah, guru-guru sebenarnya berharap mendapatkan kuota internet ini lebih proporsional pembagiannya. Sebaiknya untuk bulan kedua, alokasi kuota umum yang diperbanyak kapasitasnya. Pasalnya, banyak guru yang menggunakan media seperti YouTube untuk mengajar. Maka dari itu, diusulkan kita data untuk kuota umum diperbesar," katanya. (M20/c)