Medan
(harianSIB.com) Anggota DPRD Sumut Dapil Karo, Dairi dan Pakpak Bharat
Frans Dante Ginting mengimbau kepada semua pihak untuk tetap mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sekitar kawasan Danau Toba, menjelang musim kemarau yang tengah melanda daerah ini.
"Kawasan hutan di sekitar Danau Toba, khususnya di wilayah Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, termasuk daerah yang sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa titik hutan yang rawan terbakar berada cukup dekat dengan permukiman warga," ujar Frans Dante Ginting kepada wartawan, Selasa (8/7/2025) melalui telepon dari Karo.
Frans Dante juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membuka lahan dengan cara membakar, yang selama ini masih menjadi praktik umum di beberapa wilayah perbukitan sekitar Danau Toba. Meski terlihat cepat dan murah, praktik tersebut sangat berisiko dan bisa berdampak fatal.
"Saya harap pemerintah daerah segera turun tangan, tidak hanya dalam bentuk pemadaman jika terjadi kebakaran, tetapi juga dengan melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat. Jangan membuka hutan atau lahan dengan cara dibakar. Bahayanya sangat besar di musim kemarau ini," katanya.
Anggota dewan tersebut juga menuturkan bahwa dirinya sempat melintas langsung di kawasan Merek dan melihat kondisi di lapangan. Kebakaran yang sempat terjadi sehari sebelumnya kini telah berhasil dipadamkan. Namun, sejumlah petugas terlihat tetap siaga di lokasi guna mengantisipasi munculnya titik api baru.
Ditambahkannya, wilayah yang menjadi perhatian utama saat ini, jalur lintas strategis yang menghubungkan Tongging–Karo dengan Silalahi–Dairi. Selain sebagai kawasan hutan yang masih alami, daerah ini juga merupakan destinasi wisata unggulan di Sumut, sehingga keberadaan Karhutla bisa berdampak ganda, baik terhadap lingkungan maupun terhadap sektor pariwisata.
"Danau Toba adalah kebanggaan kita semua. Jangan sampai kawasan ini rusak karena kelalaian kita menjaga hutan. Semua pihak, baik aparat, masyarakat, dan pengelola wisata, harus punya rasa tanggung jawab bersama," pungkasnya.(*)