Medan(harianSIB.com)
Khalayak berdoa di sisi jasad Mgr AGP Datubara OFMCap di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda di Medan sejak Jumat - Minggu (17 - 19/10). Sejumlah besar darinya menyelipkan penggalan syair 'Nasonang Do Hita Nadua' ciptaan duet komponis besar Siddik Sitompul dan Nahum Situmorang.
"Yang Mulia Mgr AGP Datubara OFMCap sangat menyukai lagu tersebut," ujar Drs Johannes Sembiring MPd MKes yang berkumpul dengan banyak tokoh. Mulai dari aktivis Maniur Rumapea hingga tokoh pembauran Benyamin Winata.
Ketua Yayasan Medistra itu memiliki banyak kesan mendalam dan humanis dengan almarhum. "Sangat peduli dengan kaum papa. Ingatannya sangat kuat hingga menjelang akhir hayat masih hapal nama orang-orang yang minta berkat padanya," timpal Maniur Rumapea.
Padahal, ujar mantan ketua organisasi kemasyarakatan pemuda itu, pernah 'berseberangan' dengan Yang Mulia Uskup Emeritus Keuskupan Agung Medan. "Ketika itu kami sama-sama 'menyerang' industrialisasi di Tano Batak tapi almarhum tak mau frontal. Sebagai orang muda, kami tak mau ikut arahannya," kenangnya.
Baca Juga: Orang Muda Keuskupan Jawa Live Streaming Berkidung Mohon Virus Corona Segera Sirna Tentang 'Nasonang Do Hita Nadua' juga sangat diingat Sr M Tarcisia Sembiring FSE yang merawat almarhum. "Saat itu oppung meminta pergi ke kolam ikan di rumah sakit Santa Elisabeth Medan. Oppung memintaku menyanyikan lagu kesayangannya itu," kenangnya dan berdua mereka membawakan 'Nasonang Do Hita Nadua' dan sang biarawati mengingat WS Rendra: "Hidup adalah uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."
Johannes Sembiring memastikan, Yang Mulia Mgr AGP Datubara OFMCap membimbing umatnya bahwa hidup sungguh indah bila dijalani dalam syukur.(*)
Editor
: Robert Banjarnahor