Medan(harianSIB.com)
Derita warga Kelurahan Hutanabaluan, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) kian memuncak setelah rumah beserta harta benda mereka disapu banjir dan longsor yang datang secara tiba-tiba. Tanpa pilihan lain, puluhan warga terpaksa mendirikan tenda pengungsian di area pekuburan umum tempat yang tak pernah mereka bayangkan akan menjadi "rumah" sementara.
Tim Relawan Sarma Hutajulu SH MH dan Serli Napituyang datang langsung ke lokasi, tampak tak kuasa menahan haru melihat kondisi warga yang bertahan hidup di antara nisan dan kotak kuburan, setelah seluruh tempat tinggal dan harta benda mereka rata dengan tanah disapu banjir bandang.
"Kecamatan Tukka adalah daerah terparah. Hampir 80 persen rumah hancur total. Banjir ini begitu dahsyat hingga membawa habis harta benda warga, tidak ada satupun yang tersisa," ujar Sarma Hutajulu kepada wartawan, Kamis (4/12/2025) melalui telepon dari Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng.
Menurut penuturan warga kepada tim relawan, memilih pekuburan sebagai tempat perlindungan merupakan keputusan paling rasional, karena lokasi tersebut berada di perbukitan yang jaraknya sekitar 1 Km dari kampung mereka dan tempat itu dinilai aman dari potensi banjir susulan.
Baca Juga: Kapolres Pimpin Pembersihan Material Tanah Longsor di Jalan Sisingamangaraja Sibolga "Tak ada tempat lain yang tersisa untuk menyelamatkan diri, sehingga kuburan menjadi satu-satunya lokasi yang memberi rasa aman bagi pengungsi, meski dengan segala keterbatasan," ujar Sarma Hutajulu penuh prihatin.
Di lokasi, Sarma menemukan warga mendirikan tenda seadanya, ada yang dari terpal sobek, ada pula yang memanfaatkan bangunan kuburan beratap seng sebagai tempat tidur, memasak, hingga berlindung dari hujan. Pemandangan ini sungguh memilukan, anak-anak tidur di sisi nisan, lansia bersandar pada dinding makam, dan ibu-ibu memasak dengan tungku darurat di teras kuburan.
Editor
: Robert Banjarnahor