Medan(harianSIB.com)
Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Runggun Kemenangen Tani, Klasis Medan–Namorambe (Menara), menggelar Ibadah Rabu Abu pada, Rabu malam (18/2/2026) di Gereja GBKP Kemenangen Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan.
Ibadah yang berlangsung khidmat tersebut menandai dimulainya masa Prapaskah, yakni 40 hari menjelang perayaan Paskah. Rabu Abu menjadi pintu pembuka masa refleksi, pertobatan, dan pembaruan hidup bagi umat Kristen.
Dalam sapaan pembukanya, Pdt Theodosius Keliat MTh menyampaikan bahwa Rabu Abu mengingatkan manusia akan kerapuhan dan keberdosaannya di hadapan Tuhan. Simbol abu mengingatkan bahwa manusia itu rapuh, penuh dosa dan membutuhkan pertobatan sejati.
Ia menjelaskan, penggunaan abu sebagai simbol pertobatan telah dikenal sejak zaman purba. Dalam kesaksian Alkitab, menaburkan abu di kepala atau duduk di atas abu merupakan ungkapan dukacita, penyesalan dan pengakuan atas dosa serta pelanggaran di hadapan Allah.
Baca Juga: Ramadan, PMI Medan Gandeng Lintas Agama Jaga Stok Darah Dalam khotbahnya yang dikutip dari Kitab Kejadian 2:7 dan Kitab Pengkhotbah 12:7, Pdt Theodosius menegaskan hakikat manusia yang berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.
"Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya," ujar Theodosius.
Editor
: Robert Banjarnahor